Architecture

0 534
Foto: Mansyur Hasan Wahyudi l Teks: Dewi Sasmita

Setiap rumah tinggal memiliki problematika yang berbeda dilihat dari luas tanah dan bangunan, karakter, dan kebutuhan ruang penghuni. Di sinilah kejelian seorang arsitek diuji, karena arsitektur tidak hanya berbicara tentang bangunan saja, namun juga kaitannya dengan ruang dalam, lansekap, perlakuannya terhadap iklim, hubungannya dengan lingkungan sekitar, dan yang tidak kalah penting adalah pengaruh bangunan terhadap para penghuni.

Arsitek Nikko Lendra menyadari benar bahwa faktor kenyamanan merupakan hal yang paling utama dari sebuah rumah tinggal. Setelah seharian berada di luar untuk melakukan rutinitas pekerjaan yang cukup menguras energi, maka kembali ke rumah dengan lingkungan yang nyaman dan mendapatkan energi positif, tentunya merupakan dambaan setiap orang. Untuk itulah Arsitek Nikko Lendra memprioritaskan desain dari ‘dalam ke luar’. Bersamaan dengan beberapa permintaan dari pemilik, Arsitek Nikko Lendra mengetahui besaran porsi ruangan-ruangan yang akan digunakan oleh penghuni rumah, fleksibilitas ruang, kombinasi materialnya, dan sisi perawatannya, sehingga rumah tersebut mampu memenuhi unsur-unsur fungsional, kenyamanan, kekuatan struktur, serta keindahan .

Start

Terletak di sebuah kluster perumahan di Surabaya Barat yang desainnya didominasi oleh desain rumah standar monoton dua lantai, kehadiran desain rumah ini diharapkan juga dapat membawa ‘suasana segar’ dan menjadi inspirasi bagi yang lainnya.

Sementara bagi sang arsitek, proyek rumah tinggal ini membawa kesan tersendiri bagi pencapaian pribadi arsitek karena pemilik rumah sangat kooperatif untuk menerima masukan serta memberikan kepercayaan penuh kepada sang arsitek untuk mendesain konsep dan keseluruhan detail bangunannya. Hal ini jarang didapatkan di proyek sebelumnya.

Small

Berada di lahan berluas 190 meter persegi dan luas bangunan sekitar 295 meter persegi dengan kebutuhan ruang yang cukup banyak, merupakan tantangan besar bagi sang arsitek untuk menerjemahkan keinginan pemilik rumah tanpa mengorbankan kenyamanan maupun kualitas ruang di dalamnya. Menimbang luasannya, maka prioritas utama adalah tatanan layout ruang yang open plan dengan mereduksi sekat-sekat guna menambah fleksibilitas ruang gerak para penghuni rumah. Ketinggian antar lantai sengaja didesain menjadi 4 meter, sehingga ketinggian langit-langit rumah dapat dimaksimalkan dengan pengolahan drop ceiling untuk mendapatkan ketinggian sekitar 3 hingga 3,2 meter dari lantai. Pengolahan ketinggian langit-langit rumah ini sangat berpengaruh terhadap sirkulasi udara di dalam ruangan. Strategi lainnya adalah dengan memaksimalkan pencahayaan alami dari desain bukaan jendela yang lebar setinggi 3 meter . Dengan banyaknya cahaya alami yang masuk, maka ruangan terasa lebih luas.

Sementara untuk pembagian ruang dibagi ke dalam zona private (kamar tidur anak dan  kamar tidur utama) yang diletakkan di lantai atas dan zona semi publik di lantai bawah. Di lantai bawah juga ditambahkan ruang serbaguna yang dapat berfungsi sebagai ruang kerja ataupun kamar tamu jika dibutuhkan. Area servis sengaja diletakkan di sisi depan bangunan yang memiliki jalur sendiri, sehingga tidak mengganggu aktifitas pemilik rumah.

Selain memperhatikan sirkulasi udara, pengaturan layout ruangan pun memperhitungkan arah pergerakan sinar Matahari guna memperoleh intensitas cahaya dan panas yang lebih nyaman. Pada sisi timur bangunan diletakkan taman utama yang berfungsi untuk menjaga aliran sirkulasi udara di dalam bangunan. Sedangkan ruang-ruang servis diletakkan di sisi barat. Open plan and compact layout sebagai ciri khas arsitektur modern dipilih dengan mempertimbangkan usia dan aktifitas penghuni rumah.

Simple

Warna ruangan yang didominasi oleh warna putih menjadikan ruangan terasa lebih luas, sekaligus berfungsi sebagai kanvas yang dapat dikombinasikan dengan material dan furnitur yang telah direncanakan. Pemilihan kombinasi material sederhana pada eksteriornya dan unsur kayu pada interiornya menghadirkan kesan hangat dan nyaman meski berpenampilan modern. Pada beberapa bagian rumah ini, yaitu pada bagian fasade bangunan, area tangga utama, pintu-pintu, serta built in furniture, sang arsitek berhasil mengolah material yang relatif terjangkau harganya menjadi material alternatif yang memiliki tampilan dengan nilai estetika tinggi. Semua material yang dipilih adalah material murah dan yang biasa digunakan dalam dunia konstruksi pada umumnya, namun yang menjadi nilai tambah adalah bagaimana sang arsitek mengolah material tersebut secara  terencana sehingga terlihat menjadi material bernilai seni tinggi.

Soul

Konsep desain dari sang arsitek adalah dengan mencairkan batas antara ruang luar dengan ruang dalam. Posisi taman berdimensi 2 x 8 meter persegi sengaja diletakkan pada sisi timur bangunan yang selalu mendapat pancaran sinar Matahari. Pemilihan jenis vegetasi, dimensi, & posisi pohon juga diperhitungkan dari awal, sehingga seminimal mungkin tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari, namun semakin lama akan menjadi menyatu dengan S House, semisal Pohon Tabebuia yang berfungsi sebagai focal point dihadirkan di area taman. Taman dan Pohon Tabebuia ini akhirnya ikut memberikan nyawa pada kualitas ruang-ruang di dalam rumah ini.

Stripes

Bentuk massa bangunan pada sebagian besar rumah di area kluster cenderung seragam dan terkesan flat. Dari pihak pengembang-pun tidak mengizinkan permainan massa yang terlalu ekstrim. Mensiasati hal ini maka sang arsitek akhirnya mendesain kisi-kisi secondary skin yang fungsinya selain untuk estetika bangunan itu sendiri juga berfungsi memperluas bidang massa bangunan agar tidak terlalu flat. Kisi-kisi material besi plat yang dibentuk secara manual ini dipilih sebagai material alternatif daripada kayu solid yang harganya mahal untuk outdoor, dan berat beban materialnya sendiri jauh lebih ringan dibandingkan dengan kayu solid.

Jika diperhatikan, desain kisi-kisi ini tidak ada yang sama dimensinya antara satu dengan yang lain. Hal ini ditujukan agar penampilan bangunan secara keseluruhan tdk monoton dan terkesan flat, walaupun dibutuhkan waktu dan tingkat pengerjaan yang presisi dan ekstra. Kombinasi kisi-kisi vertikal dengan aksen jendela tipis plat besi horisontal pada tampak depan memberikan tampilan bangunan tropis modern yang tetap hangat.

Stripes lainnya dapat kita temukan pada tangga utama. Selain fungsinya sebagai guard rail dari segi keamanan, susunan vertical stripes dari besi beton berdiameter 16 milimeter ini juga membangun aksen unik di area ruang keluarga.

Struggle

Proyek rumah ini ternyata menyita banyak perhatian dari pemilik, arsitek, kontraktor, mandor, serta para tukang untuk mewujudkan bangunan seperti tampilannya sekarang ini.

Proses trial and error terhadap perlakuan beberapa material selama masa pembangunan menunjukkan bahwa untuk menghasilkan karya arsitektur yang terlihat simple ternyata rumit. Arsitek harus meluangkan waktu dan pemikiran lebih dalam mencari material alternatif dan berkoordinasi dalam mencari solusi untuk setiap permasalahan yang terjadi selama proses pembangunan. Pemilik harus rela menunggu  lebih lama untuk mendapatkan tampilan bangunan yang membutuhkan presisi dan ketelitian. Pihak kontraktor juga harus rela menyesuaikan waktu dan biaya agar durasi pekerjan tidak terlalu lama dan kualitas pekerjaan yang tetap terjaga.

Namun setelah melalui semua pengorbanan itu, hasilnya sebanding dengan yang diharapkan. Tampilan bangunan yang sesuai dengan desain arsitek, penggunaan material alternatif yang akhirnya menghasilkan keunikannya sendiri, sirkulasi dan pencahayaan alami yang baik, layout ruang yang fleksibel, pengalaman meruang yang unik, serta biaya pembangunan yang tidak terlalu besar adalah buah dari kesabaran dan kerjasama semua pihak.

Special

Nama S House merupakan kependekan dari Special House. Nama ini sebenarnya merupakan rangkuman dari seluruh pengalaman pemilik rumah, Arsitek Nikko Lendra, Desainer Interior Meyliza Kotama, kontraktor (PT. Barito Anugrah Sejati pimpinan Bapak Leo Purnomo), Kontraktor Interior Bapak Haryanto Admodjo, mandor, dan para tukang selama pembangunan proyek rumah tinggal ini, yaitu special atau istimewa. Rumah ini special karena pemilik rumah memiliki visi yang sama dengan desainer dalam melihat dan memperlakukan sebuah karya arsitektur. Pemilik juga sangat kooperatif dalam menerima pendapat dan saran dari desainer ataupun kontraktor di lapangan.

Apresiasi tinggi ditujukan tidak hanya kepada pemilik rumah, namun juga kepada desainer interior, kontraktor, mandor, dan seluruh tukang yang telah bekerja dengan hati yang istimewa pula. Mereka berbesar hati dan mengikuti detail proses desain hingga tercipta karya arsitektur yang terbangun seperti sekarang.

0 1391
Sumber: architecture-mag.com l Disarikan oleh: Annisa Billa

Pink Mosque atau Masjid Pink (Merah Muda), juga dikenal sebagai Masjid Nasir ol Molk, adalah sebuah masjid yang dirancang dengan sangat indah di Shiraz, Iran. Masjid ini dibangun pada masa Dinasti Qajar di bawah perintah Mirza Hasan Ali antara tahun 1876-1888. Sampai saat ini, Masjid Pink masih berfungsi sebagai tempat ibadah bagi pemeluk Islam dengan pemeliharaan yang diurus oleh Yayasan Nasir ol Molk.

Arsitektur Masjid ini dirancang oleh Mohammad Hasan e Memār dan Mohammad Reza Kashi-Saz e Širāzi dengan menggunakan banyak potongan kaca patri berwarna indah yang memancarkan warna yang indah setiap kali matahari bersinar cerah. Setiap kali cahaya bersinar melalui berbagai warna kaca, hal ini menciptakan efek kaleidoskop warna yang membawa semangat untuk interior bangunan dan memancarkan warna yang indah ke karpet yang digelar di seluruh ruangan. Bangunan ini diberi nama Pink Mosque atau Masjid Merah Muda karena jumlah ubin berwarna merah muda yang digunakan dalam desain bagian dalam gedung jumlahnya lebih banyak daripada warna lainnya.

Kita hanya dapat melihat cahaya melalui kaca patri di pagi hari. Jika ingin mengunjungi Pink Mosque, disarankan kita mengunjungi pada pagi hari, karena ketika sudah siang hari, kita akan terlalu terlambat untuk menangkap keindahan cahaya yang terpancar. Melihat sinar matahari pagi yang menembus kaca patri warna-warni Pink Mosque yang jatuh ke gelaran karpet yang terpasang, begitu menyihir, seperti berasal dari dunia lain.

0 1759
Teks: Widya Prawira l Foto: Mansyur Hasan

Rumah bernuansa kontemporer menjadi idaman dari sang pemilik rumah, yang diwujudkan lewat eksplorasi desain yang lebih berani dengan permainan dan komposisi bentuk cubes alias kubus atau dadu. Desain rumah hasil renovasi yang terletak di Komplek Delta Sari Baru – Sidoarjo, Jawa Timur, ini merupakan pengembangan dari rumah satu lantai menjadi dua lantai dengan beberapa perubahan dan penambahan ruang.

Arsitek Andy Rahman. A, ST. IAI memilih bentuk dadu karena selain cukup menarik perhatian, juga karena dalam proses penggubahannya lebih mudah, serta dalam aplikasinya lebih murah dan efisien. Untuk materialnya, dikombinasikan material beton yang dominan putih dan kayu, sehingga menciptakan konsep contrast of cubes… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #014/2016)

0 2206
Teks: Widya Prawira l Foto: Bambang Purwanto

Rumah dua lantai ini sesungguhnya memiliki luasan terbatas, yaitu hanya 98 meter persegi dengan ukuran lahan 7×14 meter. Namun, ditangan Arsitek Riri Yakub dan Atelier Riri, biro desain yang dipimpinnya, ternyata kekhawatiran pemilik rumah akan luasan rumahnya yang terbatas, bukan lagi sebuah persoalan.

Ada tiga kata kunci yang menjadi benang merah tema desain rumah ini, yaitu industrialis, terbuka, dan natural. Ketiga tema inilah yang secara konsisten diaplikasikan, baik secara arsitektural, layout ruang, maupun interior.

Desain rumah ini mampu menyampaikan pesan tentang keunikan dan keindahannya, tanpa harus terbebani oleh luasannya yang terbatas. Yang penting adalah penghuni merasakan kenyamanan, sesuai dengan selera dan kebutuhan… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #014/2016)

0 863
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Para pelaku bisnis di setiap lini bidang rancang bangun dan interior dipastikan merujuk Jayaboard sebagai market leader produk papan gipsum di negeri ini. Sejak 2014 Jayaboard resmi dimiliki oleh joint venture antara USG yang merupakan perusahaan gipsum pertama berteknologi tinggi di dunia asal Amerika Serikat, dengan BORAL perusahaan building material terbesar Australia yang telah menguasai market Asia Pasifik. USG Boral merupakan kolaborasi kekuatan besar yang memperkukuh market papan gipsum & perlengkapannya di kawasan Asia Pasifik. Saat ini USG Boral memiliki cabang dari Sabang sampai Merauke dengan distributor yang tersebar dan didukung oleh dua pabriknya yang berlokasi di Cilegon, Banten dan Gresik, Jawa Timur yang memproduksi secara domestik dan import products.

RUMAH JAYABOARD

USG Boral mempersembahkan kepada masyarakat luas maupun kepada konsumen, baik kalangan arsitek, developer, desainer interior, aplikator, maupun pemilik rumah untuk lebih memperluas wawasan mereka mengenai interior building dengan memanfaatkan ketangguhan papan gipsum Jayaboard.

Rumah Jayaboard yang bertempat di Foresta Business Loft 1 Unit 3, Jl. BSD Raya Utama – BSD City  ini menjadi one stop solution, kita dapat melihat, menyentuh, dan merasakan sendiri kualitas, fungsi, dan estetika produk-produk yang telah diaplikasikan dalam desain ruang. Sebutlah saja penggunaan Jayabell di ruang meeting yang berfungsi secara akustik sehingga suara tidak pecah, keunggulan penggunaan produk drywall di hotel room dengan wall lamp yang terpasang rapi, pemasangan material ceiling dalam permainan desain yang lebih fantastik (dengan bentuk bergelombang ataupun geometrik) untuk ruang kerja di kantor ataupun reception area, dan lain-lain. Rumah Jayaboard dalam waktu dekat juga akan hadir di Medan, dan menyusul di kota-kota besar lain, agar dapat memuaskan kebutuhan masyarakat Indonesia secara merata dari Sabang sampai Merauke… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #013/2016)

0 1111
Teks: Widya Prawira l Foto: Mansyur Hasan

Merenovasi sebuah rumah cenderung lebih “ribet” dibandingkan merancang rumah dari awal. Bagaimana agar pengembangan yang dilakukan tidak terlalu membengkak dari sisi budget, termasuk pemanfaatan ruang atau material lama, menjadi tantangan sebuah renovasi, tak terkecuali bagi arsitek Andy Rahman. A, ST. IAI, kala merenovasi sebuah rumah tinggal berlokasi di Sidoarjo. Sebuah rumah, The Rhythmic Lines, dengan luasan tanah 162 meter persegi direnovasi dengan cukup signifikan, baik secara eksterior maupun interiornya. Berkolaborasi dengan desain interior Anindita Caesarayi Putri ST dan Imam Prasetyo, ST, rumah eksisting yang terdiri dari dua lantai dengan desain simple dilakukan penambahan beberapa ruang, sesuai dengan kebutuhan penghuni.

Permainan garis-garis tegak lurus yang begitu dominan baik pada bagian depan rumah hingga interior pada rumah eksisting, menjadi acuan desain yang sayang jika ditinggalkan. Selanjutnya, arsitek meneruskan permainan komposisi garis secara lebih jelas dan tegas, untuk kesan garis ritmik yang lebih menarik namun tidak membosankan… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #013/2016)

0 877
Teks: Widya Prawira l Foto: Koleksi ESPERTA architecture interior

Ada banyak hal menarik yang bisa dipetik dari desain rumah dua lantai karya tim arsitek ESPERTA architecture interior, Bougainville House, yang digawangi Erwanto ST. MT selaku  principal design dan Nisafitri Amalia ini. Kolaborasi antara arsitektural dan lansekapnya, mampu menampilkan desain rumah yang dapat memberikan arti dan sosok tersendiri yang kuat terhadap lingkungan sekitarnya. Desain rumah terlihat menarik, mampu mencuri perhatian, namun jauh dari kesan arogan, sesuai dengan keinginan pemilik rumah.

Tapak rumah terdiri dari 2 kapling berbentuk tidak beraturan, yang terletak pada kawasan cul-de-sac di posisi kanan jalan, di sebuah kompleks perumahan di Bekasi. Dengan total tapak seluas 599 meter persegi dan ketentuan KDB 60%, hanya separuhnya yang difungsikan untuk bangunan, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk desain lansekap, mendukung suasana asri di lingkungan yang terbentuk dari pohon-pohon tinggi dan teduh.

Bentuk tapak tidak beraturan menjadi tantangan tersendiri bagi tim arsitek, yang berhasil dipecahkan dengan menciptakan massa bangunan di sisi kanan tapak. Posisi massa bangunan menjorok keluar dan seolah-olah melayang, mengikuti bentuk tapak bangunan yang menjorok ke depan. Arsitek membagi massa bangunan dalam dua massa, dimana massa utama merupakan bangunan induk. Dimulai dari entrance bangunan yang menghadap ke samping yang merupakan garasi mobil terbuka, berlanjut ke ruang keluarga dan ruang makan, serta disambut teras besar menghadap taman samping yang besar. Di lantai dua, yang merupakan area privat, terdapat ruang duduk keluarga, dua kamar anak dan kamar tidur utama… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #013/2016)

0 740
Teks : Widya Prawira l Foto : Bambang Purwanto

Lingkungan yang masih hijau, menjadi nilai plus yang tidak disia-siakan oleh Arsitek Ir. Marina D. Wahyudi dari MDW Arsitek saat merancang hunian di  di Kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang.  Desain hunian mengusung konsep tropical resort sebagai tempat yang nyaman untuk beristirahat serta tetap mampu mewadahi semua kegiatan penghuni. Berdiri di atas lahan seluas 620 meter persegi, hunian dua lantai yang dibangun oleh Kontraktor Dimigo Pratama ini berluas bangunan 585 meter persegi. Arsitektural bangunan didesain simpel namun fungsional tanpa banyak sentuhan dekoratif. Yang kental tertangkap adalah konsep tropis dilingkupi oleh lingkungan hijau dan tanaman tropis.

Penggunaan elemen yang menguatkan tampilan tropis, dapat dilihat pada arsitektural bangunan yang memiliki banyak bukaan lebar, atap miring, selasar, teras, dan cukup  tersedianya ruang terbuka serta tanaman tropis di taman yang melingkupi.  Adapun konsep resort dapat dirasakan melalui kehadiran kolam-kolam ikan di sekeliling hunian. Tak hanya menunjang suasana santai,  kolam juga berperan menurunkan suhu ruangan, sehingga udara di dalam hunian tidak terlalu panas. Suasana hunian bak resort diperkuat dengan penggunaan lantai dek kayu di sisi kolam yang sekaligus menjadi area favorit penghuni. Gemericik air dari kolam ikan yang bersisian dengan taman asri menjadi point of view di area belakang… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #013/2016)

0 13096
La Jolie Boarding House
Teks: Widya Prawira l Foto: Bambang Purwanto

Bangunan tiga lantai yang terletak di Depok – Jawa Barat ini merupakan rumah kos yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang kuliah di sekitaran Depok – Jawa Barat. La Jolie Boarding House, demikian nama yang diberikan untuk rumah kos ini oleh pemiliknya. Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan. Nama La Jolie diambil dari sebuah kawasan di Perancis, di mana Irwan sebagai pemilik pernah lama menetap di sana sehingga memberikan kesan mendalam.
Lebih dari sekedar rumah kos biasa, desain bangunan ini layaknya budget hotel, yang dilengkapi parkir luas pada lantai basement-nya. Menempati lahan seluas 735 meter persegi yang terletak di tengah perkampungan, rumah kos yang didesain oleh Arsitek Realrich Sjarief dari RAWArchitecture dan dibangun oleh Biro Kontraktor Singgih Suryanto dan Moel Soemadi ini memiliki total luas bangunan 1.035 meter persegi.
Ada beberapa tantangan yang diberikan pada sang arsitek saat mengawali proses mendesain rumah kos ini. Pertama, bangunan harus low maintenance; kedua, bagaimana bangunan tetap dirasakan sejuk tanpa harus mengurangi jumlah kamar; dan ketiga adalah faktor kemudahan dan efisiensi untuk pencapaian bangunan, mengingat pintu masuk yang sempit dan lokasi lahan yang berada di kampung. Selanjutnya konsep desain berangkat dari pertimbangan pencapaian bangunan selebar 3 meter yang terbilang sempit, orientasi matahari, dan skala dengan lingkungan sekitar yang didominasi residensial serta berketinggian rendah… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #012/2015)

0 1554
Nakula House, a Modern Natural Design
Teks: RA Larastio l Foto: Mario Wibowo

Memiliki rumah tinggal bergaya modern dan menyatu dengan alam tropis merupakan impian masyarakat urban masa kini yang mendambakan suasana indoor-outdoor pada lahan yang terbatas. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk merangkul lingkungan di luar ke dalam rumah hunian. Rumah yang memiliki sebutan “Nakula House” di jalan Nakula, Bandung ini memiliki luas bangunan 385 m2, tidak jauh beda dengan ukuran luas lahan yang ada.
Ide rancangan karya Arsitek Halim Agung dan Ruben Hardjanto yang memiliki Biro Kontraktor Bangun Prima Dimensi ini terkesan sangat tropikal, natural dan modern. Yang menjadi dasar dalam mendesign adalah ruangan yang mengalir dengan memasukkan ruang luar menjadi ruang dalam sehingga dengan ukuran masing-masing ruangan yang dipadatkan (dengan bukaan yang besar) masing-masing ruangan tersebut tetap bisa merasakan kesinambungan dengan ruang luar.
Ciri khas yang sangat menonjol dari rumah ini adalah pemanfaatan lebar site (untuk taman) di samping area ruang keluarga, dengan bukaan yang besar membuat luas tapak yang tidak terlalu lebar menjadi maksimal. Atap bangunan bergaya tropis dengan bukaan jendela yang sangat banyak, dapat membantu mengontrol temperatur udara di dalam rumah. Beberapa area juga diberikan kanopi yang lebar untuk mengatasi curah hujan yang besar.Bagian bangunan ini lebih transparan dengan deretan jendela lebar dengan disekat oleh taman depan rumah dan kanopi di tengah bangunan yang menaungi pintu masuk utama. Taman depan diolah menjadi zona pendukung untuk melengkapi tampilan fasad hunian… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #012/2015)