Architecture

0 938

Sebuah hunian modern dalam balutan warna putih dan aplikasi bukaan-bukaan transparan bagai menyeruak kontras di tengah suguhan hijaunya lingkungan sekitar.

Sebetulnya keinginan sang owner “sederhana” saja. Menginginkan kediaman yang simpel, praktis, terbuka, dan terang di seluruh bagian bangunan, serta lebih luas dan lebih baik dari rumah sebelumnya. Namun ketika dituangkan ke dalam sebuah desain yang mumpuni hasil besutan Rudy Gunawan dan Djoni Salim dari Biro Arsitek Dimigo Design, rancangan modern yang juga mengedepankan aspek green ini menjadi satu karya yang menawan.

UNSUR NATURAL OPTIMAL

Mulai dari tampak muka kediaman sudah terlihat jelas bagaimana upaya sang arsitek “memindahkan” ruang luar seperti menjadi bagian dari ruang dalam. Tengoklah saja dominasi kaca-kaca besar clear yang membuat bangunan terang dan membiarkan anggota keluarga menikmati cahaya yang maksimal di mayoritas ruang. Sebuah contoh yang matang bagi upaya penghematan energi di zaman penuh kemajuan teknologi saat ini.

Bukaan-bukaan besar yang teraplikasi sekaligus menawarkan dimensi memanjakan bagi penghuni di dalamnya untuk memandangi hijaunya taman dan teduhnya lingkungan sekitar dari hampir seluruh ruang. Hal tersebut dapat disimak antara lain di living area, dining area yang dirancang menyatu dengan pantry, area belajar anak, dan kamar tidur. Bahkan dari ruang seprivat kamar mandi sekalipun.

Tatanan interior yang tetap mengambil tone putih sebagai atmosfer dominan terasa tak memancarkan kesan flat ketika diselingi dengan pilihan upholstery dan elemen dekoratif berwarna-warni. Begitu pula saat dua buah single chair putih dan merah disandingkan di sebuah ruang. Selain berperan fungsional juga dapat mengisi permainan warna di tengah dominasi putih. Pun di living area, pemakaian unsur kayu sebagai latar belakang tatanan tv serta railing tangga menuju lantai atas hadir meredam impresi putih yang merajai.

ROOF GARDEN

Lebih dari itu, perancang juga menambahkan nilai bahasa arsitektur pada hunian dengan memberi ekspresi konsep green melalui kehadiran roof garden yang menyumbangkan nuansa kontras hijau di antara balutan putih bangunan. Tak tanggung-tanggung, konsep ini dituangkan pada dua titik bidang atap, yaitu beberapa pepohonan yang tampak menghias ketinggian rumah di sisi kiri, sehingga menjadi pemandangan menyejukkan. Sementara untaian tanaman-tanaman hijau menjulur ke bawah dari roof garden di bidang atap lainnya bak aksesori alami yang menarik bagi bukaan-bukaan kaca transparan.  Selengkapnya di Majalah Home Diary edisi ke-3

0 1456

Bujet murah, maintenance mudah, sekaligus nyaman berkumpul bersama anggota keluarga.

Berangkat dari keinginan untuk memberikan yang terbaik untuk buah hati tersayang yang membutuhkan sirkulasi udara bagus karena menderita asma, Samsul dan isteri lantas merenovasi rumah lamanya. Seperti yang jamak terjadi, banyak pertimbangan yang harus diperhatikan saat memutuskan renovasi, adalah tuntutan kebutuhan ruang, tema atau gaya hunian dan yang pasti, bujet.

Berada di dalam kompleks perumahan, lahan rumah eksisting berukuran 7 x 15 m ini memiliki permasalahan klasik, yaitu lahan terbatas, suasana ruang sesak, serta minimnya pencahayaan alami dan sirkulasi udara. Karenanya, selain low cost, target utama hasil renovasi adalah rumah harus lapang,  sekaligus sehat dengan limpahan cahaya matahari dan sirkulasi udara bagus.

Desain rumah kayu, yang dekat dengan alam dan terlihat natural, menjadi pilihan dari pemilik rumah, termasuk mengganti struktur eksisting dari beton menjadi struktur kayu. Sebagai arsitek rumah ini, Yu Sing, Kristoporus Primeloka dan tim Akanoma, berhasil mewujudkan desain renovasi sesuai dengan harapan pemilik, dengan nilai estetika dan keunikan yang dihadirkannya.

Lantai satu yang didesain terbuka menyatu tanpa pembatas, menempatkan fungsi ruang tamu, dapur, ruang makan, ruang duduk mushola dan taman. Tidak semua keluarga pas dengan konsep seperti ini. Konsep keterbukaan,  membuat hampir semua ruang dapat dijangkau secara visual, dari sudut manapun. Dan, memang inilah yang sejak awal dicari, keleluasaan yang tak dimiliki di rumah sebelumnya.

Dari ruang tamu berlanjut ke ruang makan yang menyatu dengan dapur. Selangkah kemudian terdapat mushola untuk kegiatan sholat berjamah, serta ruang keluarga bergaya lesehan. Sebagai pengikat dari ruang-ruang tersebut, terdapat sebuah taman.

Untuk sebuah rumah di lahan yang relatif kecil, rasanya adalah sebuah kemewahan kala bisa memiliki sebuah taman, terlebih di dalam rumah. Desain ruang-ruang semi outdoor, menghadirkan suasana teras di dalam rumah, sekaligus membuat sirkulasi udara dan cahaya makin maksimal. Cahaya matahari masuk sepanjang hari, termasuk sedikit tampias air hujan yang harus disadari mengingat iklim tropis.

Low Cost

Seperti yang telah ditekankan di awal, bahwa bujet menjadi pertimbangan yang harus senantiasa ditaati. Beberapa bagian ruang sengaja memanfaatkan material bekas dari bangunan lama. Contohnya adalah kolom kayu jati di mushola yang menggunakan kayu bekas bongkaran bangunan lain. Ada pula penggunaan kaki batu andesit sebagai pondasi umpak, yang lumayan menekan bujet. Selengkapnya di Majalah Home Diary edisi ke-3

0 902

Proses perjalanan yang lumayan panjang, memberikan pengalaman berharga bagi pasangan muda ini, dalam mewujudkan rumah idaman mereka.

Sebuah rumah yang sesuai dengan kebutuhan dan kriteria mereka, menjadi impian dari pasangan Papin dan Dinda. Bagi pasangan ini, sebuah rumah haruslah ramah, fungsional, nyaman, sehat, ramah lingkungan dan mudah perawatan mengingat urusan berberes akan dikerjakan sendiri.
Sebuah rumah kompleks biasanya sangat privat, itulah sebabnya mereka menginginkan rumah yang ramah sehingga tetangga dan keluarga besar tidak segan untuk bertandang. Rumah juga harus bisa menjadi tempat istirahat yang nyaman, seperti mendapatkan suasana berlibur di rumah. Dinda yang berprofesi sebagai penulis dan fotografer freelance, membutuhkan ruang kerja yang nyaman. Sementara Papin juga membutuhkan ruangan yang nyaman, karena memiliki rutinitas jadwal 5 minggu kerja di luar kota dan 4 minggu libur di rumah.
Mengingat dana yang terbatas, awalnya hanya akan dilakukan renovasi pada rumah eksisting, yang memiliki luasan bangunan 48 m2 ini. Tipikal rumah kompleks yang sudah direnovasi sebelumnya oleh pemilik lama, membuat rancangan renovasi dirasakan tidak maksimal. Sehingga demi mewujudkan rumah idaman, mereka rela membongkar total rumah eksisting, yang berlokasi di sisi timur Jakarta ini. Konsultasi dengan arsitek Yu Sing dan Tim Akanoma yang memberikan ide rumah ramah lingkungan, makin memantapkan langkah untuk meratakan rumah lama dengan tanah.

Sebuah rumah yang sesuai dengan kebutuhan dan kriteria mereka, menjadi impian dari pasangan Papin dan Dinda. Bagi pasangan ini, sebuah rumah haruslah ramah, fungsional, nyaman, sehat, ramah lingkungan dan mudah perawatan mengingat urusan berberes akan dikerjakan sendiri.

Sebuah rumah kompleks biasanya sangat privat, itulah sebabnya mereka menginginkan rumah yang ramah sehingga tetangga dan keluarga besar tidak segan untuk bertandang. Rumah juga harus bisa menjadi tempat istirahat yang nyaman, seperti mendapatkan suasana berlibur di rumah. Dinda yang berprofesi sebagai penulis dan fotografer freelance, membutuhkan ruang kerja yang nyaman. Sementara Papin juga membutuhkan ruangan yang nyaman, karena memiliki rutinitas jadwal 5 minggu kerja di luar kota dan 4 minggu libur di rumah.

Mengingat dana yang terbatas, awalnya hanya akan dilakukan renovasi pada rumah eksisting, yang memiliki luasan bangunan 48 m2 ini. Tipikal rumah kompleks yang sudah direnovasi sebelumnya oleh pemilik lama, membuat rancangan renovasi dirasakan tidak maksimal.  Sehingga demi mewujudkan rumah idaman, mereka rela membongkar  total rumah eksisting, yang berlokasi di sisi timur Jakarta ini. Konsultasi dengan arsitek Yu Sing dan Tim Akanoma yang memberikan ide rumah ramah lingkungan, makin memantapkan langkah untuk meratakan rumah lama dengan tanah.

Melewati berbagai tahap yang lumayan panjang, mulai dari proses desain hingga saat pembangunan yang cukup memakan waktu, memberi pelajaran berharga, khususnya bagi Dinda yang memang memiliki lebih banyak waktu. Bagaimana perjuangannya untuk ikut terlibat langsung sebagai pengawas pembangunan, mencari material, hingga detik-detik menunggu kapan pembangunan rumahnya selesai karena dikejar tenggat waktu habisnya masa kontrakan rumah, menjadi pengalaman tak terlupakan.  Selengkapnya di Majalah Home Diary edisi ke-3

0 721
Architecture - Framing Culture
Architecture - Framing Culture | Foto: Bambang Purwanto

Suguhan keindahan, suasana tenang penuh kedamaian yang dikemas dalam budaya Bali, melahirkan perpaduan estetika dan kenyamanan yang sempurna.

Hidup berdampingan dengan alam, menjunjung dan menjadikan budaya setempat sebagai inspirasi, akan melahirkan kesatuan sebuah desain. Arsitektur Bali memiliki karakter yang kuat, yang terus bertahan hingga kini. Kekuatan etnik, komposisi dan konsep tatanan, mencerminkan kekayaan budaya Bali yang artistik.  Inilah yang dihadirkan oleh Rob Peetoom’s Hair Spa, yang merupakan fasilitas kecantikan dan perawatan rambut berkelas internasional yang berlokasi di Bali.

Saat ini sudah lebih dari 10 cabang salon Rob Peetoom tersebar di dunia.  Untuk salonnya yang berada di Bali ini, Rob Peetoom mempercayakan rancangan bangunannya kepada Ruud Van Oosterhout, sang arsitek. Demi mendapatkan keserasian desain dengan budaya Bali, keduanya bahkan secara khusus melakukan perjalanan ke pelosok Bali, mengenal lebih dalam tentang arsitektur Bali untuk diterapkan pada salon ini. Mereka mengunjungi desa-desa di Bali, belajar mengenal budaya, kerajinan, kehidupan dan alam Bali, juga tentang sejarahnya.   Selengkapnya di Majalah Home Diary edisi ke-2 

0 1472
Architecture - Exotic-Contemporary-Design-Foto
Architecture - Exotic Contemporary Design | Foto: Bambang Purwanto

Kesantunan dalam mendesain bisa diperoleh dari penghargaan akan kebudayaan setempat dan mengabungkannya dengan budaya dari mana kita berasal. Kombinasi eksotis dari keduanya berhasil ciptakan kenyamanan bagi diri dan lingkungan sekitar.

Penggabungan desain tradisional dan modern selalu menarik untuk dicermati. Kaya akan detil dan permainan rasa dari penggabungan keduanya menciptakan sebuah pengalaman menarik. Meski komposisi desain seperti ini sudah banyak dipakai para desainer, namun setiap tampilannya karya Arsitek Matteo Leoni – seorang arsitek lulusan Univeristy of Architecture of Firenze, Italia – dari Ilabarchitecture  ini tetap unik dan memiliki kejutan tersendiri.

East Meet West. Villa di atas lahan seluas 1.820 meter persegi di Jalan Kunti 2, Padang Sambian Klod -  Seminyak, Bali, ini terlihat asri dengan hijaunya rumput dan pepohonan. Terdapat tiga gubahan masa bangunan, dengan dua di antaranya sudah tidak banyak ditemui di tempatnya berasal. Bangunan joglo yang eksotis tetap mempertahankan tampilan rustik kayu-kayu pembentuknya. Kayu tua yang sudah teruji kekokohannya lewat siratan rupa warna dan tekstur urat kayu. Kedua joglo tetap mempertahankan bentuk aslinya. Atap berbentuk limasan dengan genteng kampung yang mengingatkan pada rumah di pedesaan Jawa tempo dulu. Eksteriornya sangat menyatu dengan lanskap yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Bagai nostalgia bagi mereka yang pernah merasakan suasana tinggal di desa.

Kentalnya nuansa pedesaan Jawa dikombinasi dengan sebuah bangunan modern berbentuk kotak persegi panjang. Bentuknya yang sederhana bukan berarti tampilannya tidak menarik. Lewat susunan batu buleleng dengan ukuran dan warna yang tidak seragam, dinding bangunan pun terlihat tidak biasa. Kekuatan warna dan kesan natural menjadikan bangunan modern ini sama hangatnya dengan kedua joglo yang ada. Bagi pemilik, bangunan inilah yang mencerminkan daerah asalnya di Eropa meski dengan citarasa sentuhan material lokal Indonesia.  Selengkapnya di Majalah Home Diary edisi ke-2 

0 955
Architecture - Dusty-Look
Architecture - Dusty-Look | Foto: Antonino Cardillo

Sebuah ide cemerlang ketika debu yang begitu dihindari justru memberikan inspirasi untuk dikembangkan menjadi acuan tampilan interior dari hunian ini.

Desain modern memang tidak pernah benar-benar memberikan batasan pada lingkup eksplorasi yang bisa dilakukan oleh seorang desainer atau arsitek. Beragam inspirasi bisa dikembangkan dan menjadi awalan dari ide desain yang unik, cemerlang, dan juga memberikan pengalaman meruang yang berkesan. Seperti halnya arsitek berkebangsaan Italia yang berdomisili di London, Antonino Cardillo, eksplorasinya melampaui batas-batas konvensional yang membuat karyanya sangat spesifik. Terkadang mendekati impresi monumental dengan pengolahan kolom, balok, dan dinding, tetapi bisa juga memanjakan mata dengan menghadirkan komposisi tekstur yang menarik.

Hunian seluas 100 meter di Kota Roma ini seperti memiliki berbagai nuansa yang bisa berubah antara pagi dan malam. Antonino juga menambahkan lampu warna pada beberapa bagian rumah ini untuk memberikan nuansa berwarna pada dinding-dinding bertekstur kasar yang menginspirasi tersebut. Ruang-ruang yang sederhana tersusun optimal dengan pintu-pintu pivot yang menghemat ruang dan setiap ruang bisa memiliki privasi tersendiri ketika dibutuhkan. Selengkapnya di Majalah Home Diary edisi ke-2 

0 1654
cantilever_house
Cantilever House | Foto: Bambang Purwanto

Rumah yang nyaman untuk beristirahat sekaligus bersantai dapat diwujudkan dalam lingkungan yang tenang dan hijau, sehingga melenyapkan denyut kebisingan dan kesemrawutan kota.

Lokasi rumah yang berada di tepi telaga, relatif jarang ditemukan untuk rumah tinggal di Jakarta dan sekitarnya, khususnya di Tangerang. Inilah yang menjadi keunggulan rumah karya Arsitek Daniel Sandjaja, dari Studio Daniel Architect yang terletak di kawasan Alam Sutra, Serpong-Tangerang. Lingkungan alami dan hijaunya pepohonan di sekitar lahan menjadi potensi yang tidak disia-siakan.

Merespon potensi lahan diwujudkan dengan pemilihan desain arsitektur tropis, yang menjadikan bangunan dan ruang hijau terbuka seolah-olah menyatu. Untuk menciptakan kesinambungan dengan lingkungan, rumah yang terletak di lahan seluas 1000 meter persegi ini dirancang dengan konsep vila, yang bisa digunakan untuk aktifitas bersantai dan relaksasi, saat waktu senggang.  Selengkapnya di Majalah Home Diary edisi ke-2 

0 885

Simbol, bentuk, dan komposisi bangunan ini selalu ingin menyiratkan makna
agar nantinya bisa mewadahi pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia
yang berkualitas.

Wikasatrian adalah nama yang dipilih untuk memaknai keseluruhan aktivitas yang diwadahi oleh bangunan yang desainnya melalui sayembara desain. Bukan sekedar bangunan dengan ruang-ruang besar seperti kelas untuk mewadahi kegiatan pelatihan atau seminar disini, tetapi setiap fase ruang dalam bangunan dan ruang luarnya menyuguhkan satu sensasi ruang yang berbeda dan menggugah rasa.
Filosofi itu berangkat dari proses desain yang ingin menghadirkan karakter Indonesia yang sejujurnya tanpa harus menjadi artifisial yang secara acak mengambil elemen atau motif tradisional. Sayembara desain bangunan ini dimenangkan oleh Studio Akanoma
dengan arsitek Yu sing yang ingin sebuah bangunan yang artistik dan juga fungsional tanpa harus terjebak dalam tatanan dekoratif semata.

0 1726

Reruntuhan bangunan jaman Romawi ternyata tidak hanya menjadi jejak sejarah semata, pesona yang masih tersisa berhasil menggugah kreativitas sang arsitek.

Cerita dan waktu seperti memiliki kekuatan fantastis untuk menggugah kreativitas seorang arsitek untuk kemudian menghadirkan sensasi dan nuansa ruang yang sama dalam konteks modern dan masa kini.
Bagi Antonino Cardilo, arsitektur akan lebih menarik ketika bangunan tidak dengan mudah terbaca dan ditebak. “Architecture fascinates when it contains remote places, where the separation becomes an expression of the unknown, of the unreal. In short of dreams,” jelas Antonino.
Hunian di Kew, Melbourne, Australia seluas 790m2 ini memiliki pendekatan desain yang unik, ketika arsiteknya justru teringat pada reruntuhan bangunan Romawi kuno ketika akan merancang rumah ini. Segalanya menjadi tidak sesederhana mengamati reruntuhan bangunan, karena Romawi kuno terkenal dengan seni bangunan yang tinggi, kualitas arsitektur dan ruang yang megah, dan juga menyisakan cerita dari perjalanan kebudayaan dari masa silam. Eksistensi keindahannya justru masih bisa dinikmati di Eropa pada abad 18.
Nama ‘House of twelve’ kemudian menjadi satu langkah awal untuk meneruskan sebuah cerita dari reruntuhan Romawi kuno yang terus bergulir sejalan dengan waktu dan bagaimana cuaca berdialog dengan bentuk dan reruntuhan Romawi kuno.
Disinilah arsitek berupaya untuk mempertemukan sebuah kualitas antik dengan persepsi kontemporer yang lebih progresif, seperti sebuah mutasi.

0 1372

Tidak hanya sesuai dengan iklim tropis negara ini, tetapi tatanan ruang di rumah panggung turut menggambarkan kehidupan sosial keluarga Indonesia pada umumnya. Kemudian bagaimana sebuah konsep rumah panggung diadaptasikan ke dalam bangunan modern di kota besar?

Jika Anda membayangkan rumah panggung dengan tiang-tiang yang menopang bangunan di atas tanah pasti akan kecewa. Bangunan ini memiliki bentuk sederhana, ukurannya tidak terlalu besar, dan memiliki desain masa kini. Tampilannya tidak ubahnya bangunan lain yang berlantai dua dengan permainan bidang dinding dan bukaan kaca. Ternyata konsep tata ruang rumah panggunglah yang diadaptasi oleh Hartono, arsitek sekaligus pemilik, dalam merancang huniannya. Hilangnya kesan panggung disebabkan ruang bawah tertutup oleh kaca tempered seperti dinding.
Sebagai bangunan masa kini, tampilannya bersih dengan dinding berwarna putih. Namun Hartono dan keluarga kemudian sepakat untuk memasukan unsur alam pada tampak muka bangunan berupa kisi-kisi kayu agar tidak terkesan ‘dingin’. Hasilnya, nuansa bangunan menjadi lebih hangat dan alami. Sementara itu, dinding kaca turut menjadikan bangunan di lahan seluas 300 meter persegi tampak menyatu dengan alam serta tidak angkuh berdiri sendiri. Ruang terbuka hijau, kolam ikan, pepohonan, dan lingkungan yang asri membuat hunian ini semakin hidup dan memberikan kenyamanan bagi penghuninya. Sebuah pernyataan akan keinginan bergaya hidup modern dan harapan untuk kembali dekat dengan alam dapat terakomodir dengan sangat baik.