Interior

0 532
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Simple and open space merespon sebuah rancangan rumah tinggal “transit” pasangan muda yang dinamis dan ingin serba ringkas.

Kehidupan tidak selalu simpel seperti yang diimpikan. Ada dinamika yang sering kali kita tidak tahu akan berlanjut seperti apa, even apapun yang akan dihadapi sehari kemudian. Pemilik apartemen ini adalah sepasang suami istri yang menetap di luar negeri, tetapi masih sering kembali ke Jakarta untuk bertemu dengan keluarga di sekitar kawasan Kelapa Gading. Mobilitas ini membawa mereka pada pemikiran bahwa rasanya diperlukan sebuah tempat tinggal sebagai “transit” dengan tatanan yang simpel tapi tetap nyaman.

Tone of White 

Sebagai bagian dari langkah awal untuk mendapatkan suatu kenyamanan saat berada di Ibukota, pemilik mencoba merenovasi seluruh apartemen dengan bantuan Desainer Interior Ivon Xue. Lahan terbatas seluas 60 meter persegi diulik sedemikian rupa, disiasati dengan dominasi warna putih dan tatanan ruang yang simpel serta bersifat terbuka di setiap ruangnya, memaksimalkan cahaya dan udara alami masuk, juga memiliki balkon kecil untuk menikmati vista Kawasan Kelapa Gading.

Mungilnya ruang tidak menjadikan hambatan untuk merancang apartemen dengan arahan desain yang menyuguhkan impresi elegan dalam intonasi nuansa yang meneduhkan pada wallpaper ataupun balutan lain pada dinding. Yang terpenting adalah menghadirkan atmosfer yang hangat dan membuat pasangan pehobi traveling ini kerasan meski sekadar “transit”.

0 1543
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: William Kalengkongan

Kawasan premium Senopati kian semarak saja dengan kehadiran satu lagi alternatif baru untuk ber-hang out bagi para pecinta wine Ibukota, 3rd Avenue Bar. Sebagai salah satu kawasan elit Jakarta Selatan, perkembangan bisnis kuliner di sana memang terhitung pesat. Jika kesempatan ada, tak perlu berpikir dua kali, dipastikan pebisnis kuliner membuka gerai tempat mangkal di sana. 3rd Avenue Bar tidak salah menempati lokasi strategis tersebut di Wilshire Restaurant, lantai 3. 3rd Avenue Bar adalah wujud sepenggal suasana Kota Los Angeles yang tereskpresi total dalam kemewahan dan dilingkupi fine art of skyline ibu kota.

Menerobos ruang seluas 200 meter persegi ini, aura seperti kontan terbawa ke sebuah ruang bergaya kota besar Los Angeles. Mengikuti namanya, suasana khas ramainya sisi timur dan barat 3rd Street Los Angeles kental terasa sebagai inspirasi desain interior The Whiskey Bar & Lounge. Principal Architect Leo Einstein Franciscus (Einstein & Associates) tak semata membesut Whiskey Bar & Lounge dalam garis penuh kemewahan, modern, dan berkelas secara desain… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #014/2016)

 

0 1234
Teks: Chandra Sumawinatal Foto: Bambang Purwanto

Kehadiran tipe penthouse pada apartemen di kawasan elit ini memang mencuri decak kagum. Dekorasi interiornya menunjukkan taste personal pemilik yang menyukai hal berkelas dan kemewahan dalam dimensi gold. Luasan yang mencapai 300 meter persegi dengan tinggi plafon 5 meter menjadikannya megah dengan pemanfaatan material berkelas nan estetik. Glamor. Luxury. Penuh impresi kemewahan. Kalimat tersebut rasanya paripurna mewakili pesona desain interior berkelas penthouse ini.

Selera pemilik akan barang-barang luks sangat jelas terilustrasikan dan terasa atmosfernya. Mulai dari pilihan furnitur, benda-benda koleksi, aksesori dan pernak-pernik, serta pemanfaatan material. Namun penekanannya lebih khusus yaitu luks yang natural. Pada ruang demi ruang yang cepat tertangkap mata adalah ekspresi kesukaan akan material marmer dan onyx. Ada corak dan pattern khas yang memaparkan keindahan dengan kelas tersendiri. Dari situlah personality tertangkap. Untuk onyx tampak ia memilih warna karamel yang kemudian aura tersebut diterjemahkan pula ke dalam warna pintu oleh Desainer Eddy Nugroho dari Moreno Interior. Karakter karamel yang melted memancarkan motif khas yang sangat disukai penggemarnya. Nuansa itu kemudian bersinergi dengan tekstur dan serat kayu yang juga menjadi kecintaan owner. Dalam kemasan gold, kediaman terlihat mewah tapi tetap meneduhkan… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #014/2016)

0 601
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: BambangPurwanto

Dalam khazanah arsitektur, melestarikan arsitektur terdahulu merupakan salah satu upaya inspiratif dalam menghargai karya terdahulu. Di tengah kawasan tertentu, keberadaan bangunan ini muncul sebagai daya tarik khusus karena menampakkan karakter rancang bangun berbeda di antara bangunan-bangunan modern di sekelilingnya.

Nessa Phoeng dan Hans Kristian Hartono, sebagai desainer interior, meyakini bahwa desain interior tidak terlepas dari produk arsitekturnya. Untuk itulah, mereka berusaha mengimplementasikan desain modern di hunian ini tanpa harus mengurangi unsur dan kesan rumah lama. Pemilihan pola warna dan material sangat menjadi bahan pertimbangan awal agar impresi arsitektur yang kental tidak hilang. Kejelian perancang tentu sangat dibutuhkan mengingat bangunan memiliki luas 350 meter persegi di atas lahan 588 meter persegi, sehingga perlu daya kreasi tatanan interior yang dapat mengimbangi kondisi bangunan lama… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #014/2016)

0 486
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Tak perlu kata-kata yang panjang mengekspresikan bahasa desain rumah ini: Aesthetic in simplicity. Memang benar. Karakter desain terkadang muncul tanpa membutuhkan sesuatu yang sarat detail dan complicated. Di satu waktu tertentu, simplicity itu sendiri sudah sangat menerjemahkan konsep sebuah rumah idaman yang diinginkan oleh pemilik rumah yang ternyata “berjodoh” pula dengan ide sang perancang. Ekspresi interior rumah ini membenarkan aspek itu.

Berawal dari sebuah bangunan lama,  bangunan dua lantai tersebut telah direnovasi oleh pemilik rumah sebelumnya. Terdapat beberapa perombakan yang dilakukan, di antaranya mengganti seluruh kusen dan memperbesar luas master bedroom dengan cara memajukan area supaya ruang menjadi lebih luas. Karena desainer Ardy Prasetya dari Prasei Architecture & Interior yang meng-handle interior kediaman tidak terlibat langsung dalam pembangunan arsitektur, otomatis membuat owner banyak mengonsultasikan perencanaan rancangan interior padanya. Ardy Prasetya menilai, owner tergolong pribadi yang calm, sehingga tidak begitu menyukai tatanan yang terlalu “ramai”. Gayung pun bersambut, secara global desain modern minimalis yang sejak awal perancang tawarkan dominan diterima oleh pemilik rumah… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #014/2016)

0 800
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Spirit sinergi pasangan muda Nessa Phoeng dan Hans Kristian Hartono, pemilik rumah ini, begitu terasa ketika mereka bercerita kronologi mendesain rumah dengan nada antusias. Sebagai desainer interior empunya Biro Inerre Interior, keduanya menetapkan strategi yang menarik dengan menjadikan master bedroom sebagai ruang perdana untuk acuan desain ruang-ruang berikutnya agar in line. Baik Nessa maupun Hans mengatakan bahwa yang pertama kali mereka nilai sebelum menata kediaman adalah melihat site dan space, baru kemudian memikirkan tema yang mesti diangkat. Sesuatu yang bagus diekspos, sesuatu yang tidak bagus di-hide. Dan salah satu hal yang mereka sukai dari rumah “Suspended” Tropical Look ini adalah memiliki tatanan lay out satu layer. Sebagai contoh, ruang tamu tampak dirancang dengan sudut pandang terbuka ke berbagai arah. Semua ruangan mempunyai satu layer, dan setiap sisi kanan dan kiri ruang selalu connecting, terdapat bukaan.

Lay out ruang yang menyatu membuat penghuni harus cermat dalam memilih furnitur yang ideal dengan kondisi tersebut. Furnitur dan elemen interior lain dipilih berukuran pendek. Agar efisien terhadap rancangan open space, headrest pada sofa sengaja dilepas jika tidak dipakai. Kursi-kursi makan juga dipilih yang tidak tinggi supaya ruang terasa plong dan lepas agar pandangan mata tidak terhalang. Furnitur didapat dari hasil hunting dan dicari secara bertahap karena khawatir menyesal jika sekali jalan untuk memenuhi semua ruangan ternyata masih didapatkan lagi yang lebih bagus… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #013/2016)

0 760
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Luthfi Hasan gemar menata rumah dalam tatanan yang padat. Itulah sebabnya kejutan-kejutan yang Anda temui adalah penggunaan space secara maksimal. “Kebetulan saya bukan tipe penyuka minimalis, selalu tidak tahan kalau melihat tembok kosong,”akunya. Hasilnya, ruangan menjadi kaya. Kendati sarat terisi dengan serangkaian furnitur dan elemen dekoratif, interior tetap tertata secara natural, organik, enak dipandang mata, dan yang pasti membuat nyaman penghuni leyeh-leyeh di dalamnya. Rasanya, tamupun enggan untuk beranjak. Pecinta gaya vintage ini memang terobsesi memiliki rumah yang membawanya kembali pada masa kecil, dan gaya vintage lah yang ideal memenuhi impiannya. Kursi-kursi vintage kreasi Luthfi dimodifikasi dengan finishing warna terang dan bahan bermotif untuk memberi sentuhan fresh pada ruang, sehingga yang terasa karakter dan bahasa personal yang kental.

Pria yang telah merilis buku berjudul Happy Vintage ini menuturkan, bahwa dalam menata dan memilih padu padannya ia hanya bermodalkan intuisi. Tatanan furnitur dan aksesori yang padat tetap tampak ringan dan nyaman dipandang karena dilatari oleh keserasian padu padan warna. Untuk memunculkan kesan ringan, warna gelap dihindari, diganti dengan finishing warna cerah pada kayu furnitur dan pemilihan bahan kursi yang segar dan bermotif menarik. Warna merah antara lain dimunculkan pada elemen interior tertentu, demikian pula dengan lukisan dipilih dengan goresan yang tidak serius… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #013/2016)

0 566
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Mansyur Hasan

Amatlah menyenangkan berjalan menelusuri interior kediaman ini, pandangan mata spontan menangkap kesan fresh yang menyapu seluruh ruang. Konsep beach house diciptakan melebur secara natural, mensinergikan warna-warna navy, mint green, dan white yang merefleksikan nuansa pantai. Pemilihan gaya desain tersebut pada dasarnya dilatari oleh lokasi kediaman yang kebetulan merupakan area timur Surabaya yang dekat dengan pelabuhan. Dan ternyata ideal sebagai inspirasi hunian mungil berukuran 9×18 meter bagi young couple with small kids yang disajikan secara kreatif oleh Akodhyat and Partners sebagai konsultan interior.

Di foyer area dan mini guest area, desainer sengaja menghilangkan kesan formal dengan menghadirkan built-in banquette bench dengan aksen diamond padded dalam nuansa navy, serta panel putih klasik kontemporer. Hunian yang tepatnya berlokasi di Astoria Park, Kenjeran Indah, Surabaya itu menambahkan lukisan abstrak dengan dominasi warna biru, aksen meja rotan di tengah ruangan, dan beberapa aksesori warna senada yang diletakkan sedemikian rupa untuk mengikat ruangan secara keseluruhan… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #013/2016)

0 968
Kawung Villa, Tropical Luxury Resort
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Nusantara begitu kaya dengan pesona alami yang menjadi magnet bagi warga mancanegara untuk singgah, bahkan bisa dilakukan berkali-kali. Dan hingga kini Pulau Dewata menjadi salah satu destinasi favorit berkat kolaborasi eksotika alam dan seni budayanya. Vila-vila dibangun dengan tetap mengagungkan kekuatan arsitektur lokal yang melebur dengan naungan hijaunya taman alami, mengelilingi ruang demi ruang.
Vila Kawung hadir di Jl. Pantai Batu Bolong No. 66 Pantai Canggu, Bali merepresentasikan bahasa desain yang ditujukan untuk memanjakan pengunjung dengan segala pesonanya. Bangunan berdiri dalam bentuk dua massa bangunan yang meliputi satu massa bangunan sebagai area tamu dan satu bangunan lain berperan sebagai area tidur. Penegasan art of architecture di sini membawa konsep-konsep yang terinspirasikan oleh peleburan nilai-nilai lokal dan kekuatan alami. Yaitu, yang pada akhirnya menciptakan tropical luxury resort yang memanjakan.
Living area dirancang mengaplikasikan atap pelana yang merupakan hasil modifikasi bentuk atap vernakular supaya memberi kesan luas kepada setiap tamu yang datang, dan dikelilingi unsur natural pada keempat sisinya. Sehingga ketika berpijak di area ini kita seperti merasakan berada di tengah-tengah alam hijau, menyatu di dalamnya. Tak mengherankan karena kehadirannya merupakan hasil kepiawaian sang perancang andal Hidajat Endramukti mengulik desain. Untuk Reservasi, kontak kawung.villa@gmail.com atau +62 (0)818 0634 1738(Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #012/2015)

0 1017
The Springs House
Teks: Chandra Sumawinata | Foto: Bambang Purwanto

Kegemaran pemilik rumah akan warna gelap rupanya menjadi dasar hingga betapa atmosfer tersebut terasa dominan ketika menerobos memasuki ruang demi ruang. Di rumah berlantai dua seluas 400 meter persegi ini, tinggal keluarga kecil bersama dua buah hati. Mereka menghabiskan hampir seluruh waktu di rumah karena sang suami menjalankan profesinya dari rumah, sedangkan sang isteri seorang ibu rumah tangga.

MASCULINE CONTEMPORER
Merujuk latar tersebut, desainer Jefri Buntoro dari Jetta Living Architecture & Interior Design Studio yang dipercaya sepenuhnya dalam merancang kediaman keluarga ini kemudian memprogram rumah ideal yang merespon segala tuntutan kebutuhan ruang dan kegiatan sehari-hari seluruh penghuni. Di atas lahan 303 meter persegi, gaya maskulin kontemporer dalam nuansa dark menghiasi rumah karena kegemaran pemilik akan warna gelap.
Antar ruang satu dengan ruang lainnya dibentuk saling berhubungan tanpa sekat atau mengaplikasikan konsep open space yang membuat ruangan terasa lega, apalagi ditambah dengan adanya void pada area tangga yang membuat ruangan di lantai satu menjadi lebih terang. Pengukuhan kesan kontemporer diterjemahkan ke dalam perlakuan material seperti kaca, kayu, dan besi yang tampak mendekor hunian.

CREATIVE TREATMENT
Rumah merupakan cerminan pribadi penghuni di dalamnya, dan tampaknya di sini pengibaratan tersebut kental terbukti. Warna-warna yang mendominasi interior adalah sarat warna-warna gelap favorit pemilik, seperti hitam dan abu-abu yang mengekspresikan gaya maskulin, sementara nuansa putih dan cokelat dipilih sebagai warna pendukung atau penyeimbang yang menyumbangkan kesan homey.