Interior

0 640
This content requires HTML5/CSS3, WebGL, or Adobe Flash Player Version 9 or higher.

0 568
Teks : Bambang P.lFoto: Mansyur hasan

A. Tantangan di proyek.

Berawal di tahun 2013, arsitektur dan interior bangunan didesain untuk sebuah klinik kecantikan. Karena alasan personal dari pemilik, proyek sempat terhenti. Barulah di akhir tahun 2016, proyek kembali berlanjut, namun dengan konsep dan fungsi yang baru, yaitu sebagai salon, butik dan tempat perawatan tubuh khusus untuk wanita,yang berintegrasi menjadi satu dan sangat mengutamakan privasi. Dalam perubahan fungsinya, hal yang pertama harus diatasi adalah membuat zoning yang jelas namun juga fleksibel, untuk ketiga fungsi spa, salon dan butik. Luasan area yang tidak terlalu besar dan fungsi awal ruang ruang yang sudah dikonsep sebuah klinik kecantikan dan sebagian furniture yang sudah jadi menjadi tantangan tersendiri. Tantangan berikutnya adalah menyediakan wet area untuk bathtub spa, di area yang awalnya terdesain kering. Pemilik menginginkan ambience spa yang bersih, simple dan modern; berbeda dengan tipikal suasana spa yang biasanya bernuansa tropis, alami dan rustic. Goal untuk proyek ini adalah terpenuhinya kebutuhan fungsi dan estetika dan dalam batasan budget tertentu, mengingat target pengunjung kelas menengah.

B. Penyelesaian/solusi tantangan.

“Di balik sebuah proyek yang luar biasa, ada klien yang luar biasa pula”. Mungkin ini adalah ungkapan yang sangat tepat untuk Gaia Beauty Lounge. Selama proses desain dan pengerjaannya, desainer diberikan kebebasan untuk meng-explore desain, dan pemilik juga memiliki passion yang tinggi untuk mempercantik interior, dengan tetap memperhatikan budget. Bangunan terdiri dari 2 lantai didesain sebagai berikut :
Lantai satu adalah untuk resepsionis, ruang tunggu, snack corner, salon, butik, dan area service. Hampir semua area di lantai satu berupa open space. Kemudian lantai dua diperuntukan untuk layanan spa, facial dan musholla.

Konsep desain interior yang diterapkan adalah modern-chic and simple ; selaras dengan target pengunjungnya yang khusus wanita. Pengunjung yang datang disambut dengan area penerima yang simple dan feminine, counter resepsionis dengan stool yang praktis dan tidak memakan space. Disediakan juga area tunggu yang sekaligus menjadi spot favorit untuk selfie. Reflecting pool dan artificial plant sebagai pendingin suasana dan kesan alami tanpa harus tampil natural seperti pada umumnya. Selanjutnya adalah area salon dan butik sekaligus sebagai path menuju tangga yang dihubungkan dengan ‘catwalk’. Menggunakan material tampilan kayu/vynil untuk finishing lantai dan panel kaca cermin sepanjang dinding, yang selain untuk pengunjung berpatut diri sepanjang melalui ‘catwalk’, juga untuk mensiasati agar ruangan tampak lebih luas. Space untuk butik yang tidak terlalu luas juga dioptimalkan dengan desain display yang simple dan meng-expose pilihan model fashion yang ada. Walaupun tidak ada batas pemisah dinding antara salon dan butik, pembeda material finishing lantai menjadi solusi untuk membedakan fungsi area. Karpet rumput artificial menandai area butik, sekaligus membuat ruangan lebih cantik. Menuju lantai 2, dinding bordes dipasang panel finishing kayu palet jati belanda, yang kuat kesan naturalnya dan cukup ekonomis di sisi budget. Selasar menuju ruang-ruang spa didesain untuk mural dinding, kolaborasi desainer dan illustrator perempuan asal Surabaya : Peny Setyowati. Ruang spa, didesain cozy dan warm, dengan color tone yang soft untuk interiornya dan pemilihan material-material yang mudah pemeliharaannya.

Gaia Beauty Lounge adalah sebuah proyek yang dimiliki oleh seorang perempuan, didesain oleh tim desainer interior perempuan, dalam prosesnya berkolaborasi dengan illustrator perempuan, untuk mewujudkan sebuah tempat ‘me time’ bagi perempuan. It’s ladies only.

  1. Nama Project            : Gaia Beauty Lounge
  2. Lokasi                       : Jl. Manyar Jaya A / 18C, Surabaya
  3. Tahun Penyelesaian : Maret 2017
  4. Luas Bangunan        : 300 m2 (2 lantai)
  5. Kategori                   : Komersil – Spa
  6. Perancang                : KSAD

Project Manager                             :  Devi Anggia Sari, ST

Team Interior                                  :  Meladias Guntur, ST,MM

:  Mehdia Iffah Nailufar, ST

:  Wuri Kurnia, ST

:  Wulandari, ST

0 840
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Simple and open space merespon sebuah rancangan rumah tinggal “transit” pasangan muda yang dinamis dan ingin serba ringkas.

Kehidupan tidak selalu simpel seperti yang diimpikan. Ada dinamika yang sering kali kita tidak tahu akan berlanjut seperti apa, even apapun yang akan dihadapi sehari kemudian. Pemilik apartemen ini adalah sepasang suami istri yang menetap di luar negeri, tetapi masih sering kembali ke Jakarta untuk bertemu dengan keluarga di sekitar kawasan Kelapa Gading. Mobilitas ini membawa mereka pada pemikiran bahwa rasanya diperlukan sebuah tempat tinggal sebagai “transit” dengan tatanan yang simpel tapi tetap nyaman.

Tone of White 

Sebagai bagian dari langkah awal untuk mendapatkan suatu kenyamanan saat berada di Ibukota, pemilik mencoba merenovasi seluruh apartemen dengan bantuan Desainer Interior Ivon Xue. Lahan terbatas seluas 60 meter persegi diulik sedemikian rupa, disiasati dengan dominasi warna putih dan tatanan ruang yang simpel serta bersifat terbuka di setiap ruangnya, memaksimalkan cahaya dan udara alami masuk, juga memiliki balkon kecil untuk menikmati vista Kawasan Kelapa Gading.

Mungilnya ruang tidak menjadikan hambatan untuk merancang apartemen dengan arahan desain yang menyuguhkan impresi elegan dalam intonasi nuansa yang meneduhkan pada wallpaper ataupun balutan lain pada dinding. Yang terpenting adalah menghadirkan atmosfer yang hangat dan membuat pasangan pehobi traveling ini kerasan meski sekadar “transit”.

0 1579
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: William Kalengkongan

Kawasan premium Senopati kian semarak saja dengan kehadiran satu lagi alternatif baru untuk ber-hang out bagi para pecinta wine Ibukota, 3rd Avenue Bar. Sebagai salah satu kawasan elit Jakarta Selatan, perkembangan bisnis kuliner di sana memang terhitung pesat. Jika kesempatan ada, tak perlu berpikir dua kali, dipastikan pebisnis kuliner membuka gerai tempat mangkal di sana. 3rd Avenue Bar tidak salah menempati lokasi strategis tersebut di Wilshire Restaurant, lantai 3. 3rd Avenue Bar adalah wujud sepenggal suasana Kota Los Angeles yang tereskpresi total dalam kemewahan dan dilingkupi fine art of skyline ibu kota.

Menerobos ruang seluas 200 meter persegi ini, aura seperti kontan terbawa ke sebuah ruang bergaya kota besar Los Angeles. Mengikuti namanya, suasana khas ramainya sisi timur dan barat 3rd Street Los Angeles kental terasa sebagai inspirasi desain interior The Whiskey Bar & Lounge. Principal Architect Leo Einstein Franciscus (Einstein & Associates) tak semata membesut Whiskey Bar & Lounge dalam garis penuh kemewahan, modern, dan berkelas secara desain… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #014/2016)

 

0 1263
Teks: Chandra Sumawinatal Foto: Bambang Purwanto

Kehadiran tipe penthouse pada apartemen di kawasan elit ini memang mencuri decak kagum. Dekorasi interiornya menunjukkan taste personal pemilik yang menyukai hal berkelas dan kemewahan dalam dimensi gold. Luasan yang mencapai 300 meter persegi dengan tinggi plafon 5 meter menjadikannya megah dengan pemanfaatan material berkelas nan estetik. Glamor. Luxury. Penuh impresi kemewahan. Kalimat tersebut rasanya paripurna mewakili pesona desain interior berkelas penthouse ini.

Selera pemilik akan barang-barang luks sangat jelas terilustrasikan dan terasa atmosfernya. Mulai dari pilihan furnitur, benda-benda koleksi, aksesori dan pernak-pernik, serta pemanfaatan material. Namun penekanannya lebih khusus yaitu luks yang natural. Pada ruang demi ruang yang cepat tertangkap mata adalah ekspresi kesukaan akan material marmer dan onyx. Ada corak dan pattern khas yang memaparkan keindahan dengan kelas tersendiri. Dari situlah personality tertangkap. Untuk onyx tampak ia memilih warna karamel yang kemudian aura tersebut diterjemahkan pula ke dalam warna pintu oleh Desainer Eddy Nugroho dari Moreno Interior. Karakter karamel yang melted memancarkan motif khas yang sangat disukai penggemarnya. Nuansa itu kemudian bersinergi dengan tekstur dan serat kayu yang juga menjadi kecintaan owner. Dalam kemasan gold, kediaman terlihat mewah tapi tetap meneduhkan… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #014/2016)

0 631
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: BambangPurwanto

Dalam khazanah arsitektur, melestarikan arsitektur terdahulu merupakan salah satu upaya inspiratif dalam menghargai karya terdahulu. Di tengah kawasan tertentu, keberadaan bangunan ini muncul sebagai daya tarik khusus karena menampakkan karakter rancang bangun berbeda di antara bangunan-bangunan modern di sekelilingnya.

Nessa Phoeng dan Hans Kristian Hartono, sebagai desainer interior, meyakini bahwa desain interior tidak terlepas dari produk arsitekturnya. Untuk itulah, mereka berusaha mengimplementasikan desain modern di hunian ini tanpa harus mengurangi unsur dan kesan rumah lama. Pemilihan pola warna dan material sangat menjadi bahan pertimbangan awal agar impresi arsitektur yang kental tidak hilang. Kejelian perancang tentu sangat dibutuhkan mengingat bangunan memiliki luas 350 meter persegi di atas lahan 588 meter persegi, sehingga perlu daya kreasi tatanan interior yang dapat mengimbangi kondisi bangunan lama… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #014/2016)

0 509
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Tak perlu kata-kata yang panjang mengekspresikan bahasa desain rumah ini: Aesthetic in simplicity. Memang benar. Karakter desain terkadang muncul tanpa membutuhkan sesuatu yang sarat detail dan complicated. Di satu waktu tertentu, simplicity itu sendiri sudah sangat menerjemahkan konsep sebuah rumah idaman yang diinginkan oleh pemilik rumah yang ternyata “berjodoh” pula dengan ide sang perancang. Ekspresi interior rumah ini membenarkan aspek itu.

Berawal dari sebuah bangunan lama,  bangunan dua lantai tersebut telah direnovasi oleh pemilik rumah sebelumnya. Terdapat beberapa perombakan yang dilakukan, di antaranya mengganti seluruh kusen dan memperbesar luas master bedroom dengan cara memajukan area supaya ruang menjadi lebih luas. Karena desainer Ardy Prasetya dari Prasei Architecture & Interior yang meng-handle interior kediaman tidak terlibat langsung dalam pembangunan arsitektur, otomatis membuat owner banyak mengonsultasikan perencanaan rancangan interior padanya. Ardy Prasetya menilai, owner tergolong pribadi yang calm, sehingga tidak begitu menyukai tatanan yang terlalu “ramai”. Gayung pun bersambut, secara global desain modern minimalis yang sejak awal perancang tawarkan dominan diterima oleh pemilik rumah… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #014/2016)

0 833
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Spirit sinergi pasangan muda Nessa Phoeng dan Hans Kristian Hartono, pemilik rumah ini, begitu terasa ketika mereka bercerita kronologi mendesain rumah dengan nada antusias. Sebagai desainer interior empunya Biro Inerre Interior, keduanya menetapkan strategi yang menarik dengan menjadikan master bedroom sebagai ruang perdana untuk acuan desain ruang-ruang berikutnya agar in line. Baik Nessa maupun Hans mengatakan bahwa yang pertama kali mereka nilai sebelum menata kediaman adalah melihat site dan space, baru kemudian memikirkan tema yang mesti diangkat. Sesuatu yang bagus diekspos, sesuatu yang tidak bagus di-hide. Dan salah satu hal yang mereka sukai dari rumah “Suspended” Tropical Look ini adalah memiliki tatanan lay out satu layer. Sebagai contoh, ruang tamu tampak dirancang dengan sudut pandang terbuka ke berbagai arah. Semua ruangan mempunyai satu layer, dan setiap sisi kanan dan kiri ruang selalu connecting, terdapat bukaan.

Lay out ruang yang menyatu membuat penghuni harus cermat dalam memilih furnitur yang ideal dengan kondisi tersebut. Furnitur dan elemen interior lain dipilih berukuran pendek. Agar efisien terhadap rancangan open space, headrest pada sofa sengaja dilepas jika tidak dipakai. Kursi-kursi makan juga dipilih yang tidak tinggi supaya ruang terasa plong dan lepas agar pandangan mata tidak terhalang. Furnitur didapat dari hasil hunting dan dicari secara bertahap karena khawatir menyesal jika sekali jalan untuk memenuhi semua ruangan ternyata masih didapatkan lagi yang lebih bagus… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #013/2016)

0 803
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Luthfi Hasan gemar menata rumah dalam tatanan yang padat. Itulah sebabnya kejutan-kejutan yang Anda temui adalah penggunaan space secara maksimal. “Kebetulan saya bukan tipe penyuka minimalis, selalu tidak tahan kalau melihat tembok kosong,”akunya. Hasilnya, ruangan menjadi kaya. Kendati sarat terisi dengan serangkaian furnitur dan elemen dekoratif, interior tetap tertata secara natural, organik, enak dipandang mata, dan yang pasti membuat nyaman penghuni leyeh-leyeh di dalamnya. Rasanya, tamupun enggan untuk beranjak. Pecinta gaya vintage ini memang terobsesi memiliki rumah yang membawanya kembali pada masa kecil, dan gaya vintage lah yang ideal memenuhi impiannya. Kursi-kursi vintage kreasi Luthfi dimodifikasi dengan finishing warna terang dan bahan bermotif untuk memberi sentuhan fresh pada ruang, sehingga yang terasa karakter dan bahasa personal yang kental.

Pria yang telah merilis buku berjudul Happy Vintage ini menuturkan, bahwa dalam menata dan memilih padu padannya ia hanya bermodalkan intuisi. Tatanan furnitur dan aksesori yang padat tetap tampak ringan dan nyaman dipandang karena dilatari oleh keserasian padu padan warna. Untuk memunculkan kesan ringan, warna gelap dihindari, diganti dengan finishing warna cerah pada kayu furnitur dan pemilihan bahan kursi yang segar dan bermotif menarik. Warna merah antara lain dimunculkan pada elemen interior tertentu, demikian pula dengan lukisan dipilih dengan goresan yang tidak serius… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #013/2016)

0 590
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Mansyur Hasan

Amatlah menyenangkan berjalan menelusuri interior kediaman ini, pandangan mata spontan menangkap kesan fresh yang menyapu seluruh ruang. Konsep beach house diciptakan melebur secara natural, mensinergikan warna-warna navy, mint green, dan white yang merefleksikan nuansa pantai. Pemilihan gaya desain tersebut pada dasarnya dilatari oleh lokasi kediaman yang kebetulan merupakan area timur Surabaya yang dekat dengan pelabuhan. Dan ternyata ideal sebagai inspirasi hunian mungil berukuran 9×18 meter bagi young couple with small kids yang disajikan secara kreatif oleh Akodhyat and Partners sebagai konsultan interior.

Di foyer area dan mini guest area, desainer sengaja menghilangkan kesan formal dengan menghadirkan built-in banquette bench dengan aksen diamond padded dalam nuansa navy, serta panel putih klasik kontemporer. Hunian yang tepatnya berlokasi di Astoria Park, Kenjeran Indah, Surabaya itu menambahkan lukisan abstrak dengan dominasi warna biru, aksen meja rotan di tengah ruangan, dan beberapa aksesori warna senada yang diletakkan sedemikian rupa untuk mengikat ruangan secara keseluruhan… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #013/2016)