Profile

0 1195
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Eddy Moreno menggiatkan bisnisnya, Moreno Interior, di bidang desain interior sejak tahun 2002. Sepintas mengenalnya, terbaca karakter pria ini periang dan gemar diskusi seputar bisnis desain dan bincang-bincang santai. Eddy Moreno mengecap pendidikan di Tafe Leederville, Australia dan mencapai Diploma of Interior Design pada tahun 1995. Selanjutnya pada tahun 1998, lulus dari Tafe Central, Australia, untuk Diploma of Product Design. Eddy Moreno juga berhasil mencapai gelar Bachelor of Art dari Curtin University, Australia, pada tahun 2000. Adalah sebuah pencapaian yang cukup mumpuni jika sejauh ini ia telah berhasil merangkul klien-klien dari kalangan high-end dengan selera berkelas. Keunggulan kreasi visualnya dalam mengusung modern luxury design nan elegan yang menjadi aura prestisius di setiap rumah klien, tetapi tetap homey dan comfortable banyak sudah mendekorasi hunian-hunian apartemen premium, termasuk tipe penthouse, di bilangan strategis Ibukota… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #014/2016)

0 1555
Teks: Reki Desma Tri Putra l Foto: Koleksi Andy Rahman

Indonesia tidak pernah kehabisan bibit-bibit arsitek berbakat. Selalu muncul para generasi muda yang membuahkan karya-karya unik, menarik, serta makin memperkaya khasanah desain modern di tanah air. Salah satu nama yang berhasil naik ke permukaan adalah Andy Rahman. Arsitek muda asal Surabaya ini berhasil berkarir di bidang favoritnya dan telah mencatat segudang prestasi.

Sejak kecil, Andy Rahman sudah hobi menggambar yang kemudian menumbuhkan passion-nya di dunia arsitektur, sehingga saat memasuki bangku kuliah ia tanpa ragu langsung memilih jalur pendidikan jurusan arsitektur Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS). Ketika lulus kuliah tahun 2004, Andy Rahman langsung terjun ke lapangan mempraktekkan ilmunya…(Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #014/2016)

0 725
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Koleksi Luthfi Hasan

Pada awalnya Luthfi Hasan mungkin tidak menyangka hobinya akan berbuah berkah besar seperti saat ini. Padahal segalanya hanya dimùlai dari hobi mengisi interior rumah, cari-cari tahu tempat di mana memperoleh barang-barang dengan style masing-masing. Sampai ia jatuh cinta pada kursi-kursi vintage tahun 1950-1960 an yang menurutnya berdesain unik dan menandai selera yang bagus di masanya. Secara historis, barang-barang mid century mulai bangkit kembali pada tahun 2010 an. Ketika banyak kalangan mulai ingin menata sendiri interior kediaman dan mencari sesuatu yang mengingatkan mereka pada masa kecil, membuat mereka familiar dan betah di rumah. Jadilah  barang-barang mid century salah satu yang dicari, seperti yang dilakukan Luthfi pula. Ide untuk mempopularkan furnitur vintage lalu dituangkan ke dalam produknya, yaitu Jakarta Vintage, yang ternyata mendapat banyak sambutan dari pecinta gaya vintage.

JAKARTA VINTAGE

Jakarta Vintage didirikan pada Juni 2012. Debut pertamanya dimulai ketika hadir sebagai kurator furnitur dan interior pada Oktober 2012 di sebuah acara pelelangan barang-barang vintage di Jakarta. Sejak itulah ia mengepakkan sayap, mengerjakan proyek furnitur, desain interior, dan dekorasi untuk rumah tinggal, cafe, kantor, hotel, juga club house. Pada Maret 2015 Luthfi meluncurkan Buku Happy Vintage, terbitan yang menyuguhkan inspirasi bagi publik dalam mendekorasi rumah bergaya vintage yang sukses meraih respon positif. Pada April 2015, Luthfi memperoleh penghargaan The Most Favorite Interior Designer 2015 dari MNC Smart Living untuk kontribusinya bagi program interior di televisi… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #013/2016)

0 960
Realrich Sjarief, Developing Indonesia via Architecture
Teks: Reki Desma l Foto: Bambang Purwanto & Koleksi Realrich Sjarief

Pencapaian seseorang tidak hanya terlihat dari seberapa banyak ia menghasilkan karya, namun juga kontribusinya untuk disiplin ilmu yang dianutnya. Lebih jauh lagi, adalah kewajiban untuk menurunkan ilmunya kepada generasi baru yang akan melanjutkan perkembangan dan menyempurnakan pengetahuan yang telah ada.
Hal inilah yang mendefinisikan seorang Realrich Sjarief: seorang arsitek kenamaan yang menjadi salah satu generasi terdepan di kalangan arsitek dan desainer tanah air. Kesibukan profesinya tidak membuatnya lupa untuk meluangkan waktu demi membagi ilmu dan pengalamannya untuk mencetak bibit-bibit arsitek unggul di masa depan.
Jalan Realrich untuk menjadi seorang dimulai sejak lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2005, ia berpraktek di beberapa biro ternama baik di dalam maupun luar negeri, antara lain Urbane Indonesia di Bandung, DP Architects di Singapore, dan Foster and Partners di London, biro yang dimiliki Lord Norman Foster, arsitek peraih Pritzker Prize sebagai penghargaan bergengsi di arsitektur.
Masa – masa belajar di ITB berperan besar dalam membentuk karakter Realrich, di mana pengalaman kuliah bersama dosen – dosen terbaik, pengalaman organisasi bersama IMA Gunadharma, dan pengalaman bersosialisasi dengan berbagai budaya yang ada di kampus membawa pola pikir dan sikap untuk selalu belajar di manapun ia berada.
Di London, ia dan timnya sempat berkolaborasi dengan Muir Livingstone, Iwona Schwedo Wilmot, dan John Blythe, associcate, partner, dan senior partner di Foster and Partners untuk mendesain beberapa bangunan seperti Masdar City dan Al-Reems Island Apartment di Abu Dhabi serta YTL headquarter di Kuala Lumpur. Realrich juga menjadi anggota afiliasi dari Royal Institute of British Architect (RIBA).
Setelah mengenyam berbagai pengalaman, ia lalu memutuskan untuk meneruskan gelar master di urban desain and development di University of New South Wales (UNSW) Australia dengan studi master of urban design di bawah bimbingan Jon Lang dan James Weirick. Di sini ia berhasil lulus secara memuaskan, dan sekembalinya ke Jakarta, Realrich memberanikan diri mendirikan biro desainnya sendiri… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #012/2015)

0 1205
Cosmas Gozali
Teks: Reki Desma l Foto: Koleksi Atelier Cosmas Gozali (ACG)

Ketertarikan Cosmas Gozali terhadap dunia arsitektur telah tertanam sejak kecil. Semasa sekolah dasar, ia sering diajak ayahnya untuk berjalan-jalan mengitari daerah-daerah seputar Jakarta yang memiliki banyak bangunan tua. Dari situlah hatinya mulai tergerak untuk mendalami secara serius profesi ini. Ternyata, minatnya di bidang arsitek juga ditunjang dengan kemampuan akademisnya, antara lain keahlian di bidang matematika dan teknik menggambar. Maka setelah lulus SMA, ia tidak membuang waktu dan masuk ke jurusan yang diinginkannya selama ini. Ia lalu berangkat ke Austria untuk menimba ilmu di Technische Universitats Wien di Kota Wina.
Selepas lulus di tahun 1992, karirnya langsung dimulai dan berjalan dengan cemerlang hingga saat ini. Pada tahun 2005, ia membuka jasa konsultan arsiteknya sendiri dan diberi nama Atelier Cosmas Gozali (ACG) yang bergerak dalam bidang arsitektur, interior, dan lansekap. Sudah banyak karyanya yang memenangkan berbagai penghargaan. Antara lain adalah Rumah Ganesha di Bali yang memenangkan IAI Award Winning Team; Rumah Origami dan Rumah Opera yang dianugrahi ICI Award Winning Team tahun 2002. Penghargaan atas karya-karyanya membuat Cosmas menjadi salah satu figur arsitek lokal yang dikenal luas… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #011/2015)

0 688
Teks: Reki Desma l Foto: Bambang Purwanto

akan tidak pernah kehabisan bibit unggul yang handal. Banyak sekali putra-putri berbakat yang muncul di segala bidang dan menuai nama harum melalui karya-karya terbaik yang mereka tampilkan baik di dalam atau di luar negeri. Di bidang arsitektur, sudah tak terhitung banyaknya nama-nama yang muncul ke permukaan dalam menghasilkan berbagai jenis desain arsitektur yang bisa disejajarkan dengan karya-karya kelas internasional, salah satunya adalah Arsitek Erwanto yang cukup lama bergelut di dunia arsitektur. Erwanto terjun dalam profesi arsitek dimulai dari rasa penasarannya ketika ia melihat kakaknya yang berkecimpung di bidang ini. Ketertarikannya pada aktifitas menggambar juga turut membangkitkan minatnya ketika sang kakak membuat sketsa desain rumah dan posisi kamar. Ia lantas memantapkan dirinya untuk berkuliah di Universitas Tarumanegara (UNTAR) pada tahun 1996 dan menganggap jurusan arsitektur yang diambilnya sebagai tantangan dan sarana bagi dirinya untuk menimba ilmu. Ia lalu berhasil lulus di tahun 2000 dengan nilai yang baik… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #010/2015)

0 827
Ivon Xue, Education through Interior Design
Teks: Reki Desma Foto: Koleksi Ivon Xue

Cita-cita adalah impian manusia yang selalu diusahakan untuk diraih. Dengan memegang teguh mimpi serta berusaha dan berdoa, seseorang bisa mewujudkan mimpinya.

2Rintangan pasti ada dan harus dilalui sebelum bisa merasakan jerih payah dari usahanya itu. Ada orang dapat mewujudkan cita-melalui hobi yang ditekuni dan berlanjut ke pendidikan, semisal Ivon Xue.

3Kegemarannya terhadap dunia arsitektur dan desain sejak duduk di bangku pendidikan awal telah membawa namanya menjadi seorang desainer interior yang disegani di dalam negeri.

4Memberi pengertian pada masyarakat mengenai keseimbangan alam dan keterbukaan menjadi pedoman yang selalu ia lakukan… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #009/2015)

5

0 704
Rudy Gunawan, Persistent Indonesian Architect
Teks: Reki Desma Foto: Bambang Purwanto

Instruo cum Animus atau membangun dengan hati adalah kata kunci yang dipegang sejak awal dan menjadi filosofi perusahaan serta telah mengantarkan menjadi seorang arsitek yang bersahaja.

2

Seperti halnya setiap profesi, akan ada suka, duka, halangan, atau tantangan yang datang tiap saat selagi kita menjalaninya. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah menjalankan profesi itu sekuat hati dan pantang menyerah, maka akan tiba saatnya jalan terbuka bagi kita untuk meraih kesuksesan.

3Pengalaman inilah yang akhirnya membentuk karakter seorang Rudy Gunawan. Keteguhannya menjalankan profesi arsitek dan desainer telah membuat namanya menjadi cukup dikenal di dunia arsitektur tanah air, serta dipercaya untuk mengerjakan proyek-proyek berkelas… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #009/2015)

4

0 908
Dimoderatori Bpk. Lim Masulin, Anna Nakamura & Taiyo Jinno berbagi pengalaman dalam salah satu diskusi Design Week 2.1 IAI 2014. Teks: Reki Desma | Foto: Bambang Purwanto & Koleksi Eastern Design Office

Nampaknya Jepang tidak pernah kehabisan stok arsitek berkualitas. Salah satunya bahkan membawa ilmu hingga ke Indonesia.

Jepang merupakan salah satu negara paling terdepan dalam bidang arsitektur. Tidak terhitung lagi banyaknya para arsitek Negeri Sakura yang namanya sudah berkibar di dunia internasional. Bahkan banyak arsitekt dari manca negara, juga arsitek Indonesia, yang menuntut ilmu ke sana.

Sejarah panjang rancang bangun khas yang memadukan unsur-unsur Budha, Shinto, dan Zen ternyata masih terjaga dengan baik, dan interaksi masyarakatnya dengan orang-orang luar selama berabad-abad telah membentuk evolusi sebuah desain yang unik. Banyak arsitek yang mencoba mengembangkan kekayaan desain itu, salah satunya adalah Biro Arsitektur Eastern Design Office.

ARSITEK DARI TIMUR

Eastern Design Office merupakan hasil kerjasama dua arsitek, Anna Nakamura dan Taiyo Jinno yang berlokasi di Kyoto – Jepang, yang berusaha memadukan ide serta menciptakan konsep rancangan unik sesuai permintaan klien. Firma ini dibentuk pertama kali tahun 2003 dan telah sukses menangani berbagai proyek komersial, residensial, dan urban planning… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #008/2015)

Anna Nakamura dan Taiyo Jinno di Pelabuhan Kota Tua Jakarta

Tower of Ring

Saitan Villa

0 993

Pada setiap generasi, selalu ada nama-nama yang berhasil naik berkat karya-karya kreatif yang dihasilkan. Salah satunya adalah Francis Surjaseputra, desainer kelahiran Malang – Jawa Timur – yang sudah malang melintang di dunia desain Indonesia serta sudah dikenal hingga ke tingkat internasional. Keseriusannya dalam bidang desain mulai terlihat saat Francis berhasil menerima beasiswa untuk menimba ilmu di Parsons School of Art & Design, Paris – Perancis. Selepas sekolah, Francis mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya melalui proyek pertamanya yaitu Center of The Art of Living di Desa Juwuk Legi, Bali. Prestasi yang diraih tak bisa dipandang sebelah mata. Francis telah menerima berbagai penghargaan atas karya-karyanya baik di tingkat nasional dan bahkan tingkat internasional. Di antaranya adalah saat Francis mengerjakan proyek By The Beach, Warung Daun, Saeco Showroom, dan mendesain Java Office Chair. Saat ini Francis masih aktif sebagai desainer di firma desainnya, Axon Sembilan Puluh serta menjadi konsultan di Solichin Gunawan + Associates. Semangat keorganisasiannya juga ditunjukkan dengan menjabat sebagai ketua Himpunan Interior Desain Indonesia (HDII) periode 2013 – 2015 dan Asian Pacific Space Designer Alliance (APSDA) periode 2012 – 2014…  (Lihat Francis Surjaseputra, a Preparation to Welcome the ASEAN Economy Community (AEC) 2015selengkapnya di Majalah Home Diary #007/2014)