Profile

0 1022
Profile---Sakundria
Teks : Widya Prawira | Foto : Bambang Purwanto

Tugas seorang desainer interior tidak hanya mendesain, namun juga berperan sebagai teman “curhat” klien.Itulah yang disampaikan oleh Sakundria Satya Murti Wardhana, seorang desainer interior kelahiran Jakarta, kala disambangi di kediaman sekaligus kantornya, Wardhana Design. Menekuni karir sebagai desainer interior selama lebih dari sepuluh tahun, membuat Andri – begitu ia biasa disapa, bisa memahami peran apa yang harus dimainkannya saat menemui klien: Kapan ia harus berperan sebagai desainer interior yang memberikan advise tatanan interior, dan kapan ia harus berperan sebagai teman curhat untuk mendengarkan obrolan ringan sang klien; dan itu sudah menjadi bagian dari service yang harus diberikan kepada klien, begitu menurut Andri… (Lihat selengkapnya Sakundria Satya Murti Wardhana, Work with Love di Majalah Home Diary #006/2014)

0 733

Disadari atau tidak, desain merupakan salah satu aspek yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Mulai dari lingkup makro seperti kota, area komersial, rumah, hingga ke berbagai obyek di sekeliling kita yang mendukung kegiatan sehari-hari yaitu furnitur. Tidak mengherankan apabila furnitur, seperti kursi atau meja mengalami berbagai perubahan baik itu penyesuaian atau penyempurnaan dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut dapat dipengaruhi oleh gaya hidup, pertukaran budaya, hingga perkembangan material dan teknologi. Di sinilah desain berperan untuk merespon perubahan tersebut  dan memformulasikan ke dalam bentuk tertentu. Bidang inilah yang menjadi fokus Joshua Simandjuntak, desainer produk yang juga merupakan pendiri Zylia Design Studio dan brand KARSA…  (Lihat selengkapnya Joshua Simandjuntak, Elevating Local Furniture Industry into Global Market di Majalah Home Diary #006/2014)

0 1405

Berkarya sejak muda, Christophorus Jauhari menjadi salah satu ujung tombak generasi baru arsitek tanah air.

Satu lagi arsitek handal yang prestasinya membanggakan publik Indonesia dengan karya-karyanya yang tidak hanya terlihat apik namun mengusung desain yang efisien. Walaupun masih muda, ia sudah memiliki segudang pengalaman dan karya yang sudah diakui di level nasional.

BERKARIR SELAGI MUDA

Lahir di Jakarta pada 1983, Chris – begitu ia sering disapa – menyelesaikan kuliahnya pada tahun 2005 di Universitas Tarumanegara. Ia tidak membuang waktu dan langsung memutuskan berkarir sebagai arsitek freelance selama dua tahun untuk menimba pengalaman di bidang arsitektur lebih jauh lagi.Setelah merasa cukup menuntut ilmu, ia lalu mendirikan Chrystalline Artchitect, sebuah biro arsitek yang dipimpinnya sendiri. Perjuangannya tidak selesai sampai disitu, dan ia senantiasa melahirkan karya baru yang mengundang decak kagum bagi para kliennya maupun pecinta arsitektur lain.

Walaupun sudah terlihat sukses, namun Chris juga menyimpan mimpi yang besar terhadap perkembangan dunia desain arsitektur Indonesia. Ia menginginkan para arsitek Indonesia lebih bisa diterima di kalangan internasional dan bisa membangun kualitasnya menghadapi era globalisasi yang akan membawa putra-putra terbaik Indonesia menghadapi perupa desain dari negara lain.Ia mengakui bahwa kualitas arsitek tanah air sudah mulai meningkat lebih jauh, dengan permintaan klien yang makin tinggi serta adanya kesadaran masyarakat, khususnya kelas menengah ke atas yang mulai mengapresiasi secara positif mengenai pentingnya jasa seorang desainer menciptakan sebuah tempat tinggal.

Perkembangan dunia desain nusantara pun sudah memasuki tahap yang cukup baik, ditandai dengan calon-calon generasi penerus yang sudah melek teknologi, inovatif, serta produktif. Progresi yang akan terjadi cepat atau lambat berbarengan dengan mulai masuknya berbagai informasi mengenai arsitektur dari negara-negara lain yang amat mudah didapatkan melalui media internet.Ia pun berharap ketika Asean Economic Community dibuka, hal ini akan dapat membantu desainer tanah air untuk lebih unjuk gigi di tingkat internasional dan berkompetisi secara terbuka. Semangat siap bersaing, Selengkapnya di Majalah Home Diary edisi 5

0 2206

Mendalami arsitektur selama lebih dari 10 tahun, Raul Renanda terus mencoba untuk menghadirkan ruang publik yang mendorong energi positif bagi masyarakat.

Dunia arsitektur Indonesia boleh berbangga karena memiliki putra-putri cemerlang yang mampu mengharumkan nama bangsa dengan karya-karya terbaik. Beberapa di antara mereka bahkan sudah melanglang buana dan sudah merasakan apresiasi positif dari dunia arsitektur internasional.

BERKARYA SEJAK MUDA

Nama Raul Renanda merupakan salah satu yang cukup menonjol. Arsitek muda ini sukses berkiprah di bidang arsitektur, interior, dan desain produk serta telah menangani berbagai macam proyek, dari rumah, cafe hingga ke bangunan besar seperti apartemen atau gedung teater.

Karir Raul dimulai setelah ia lulus dari Universitas Katolik Parahyangan pada tahun 1994 dan bekerja di konsultan arsitektur Atelier 6 Jakarta sebagai arsitek serta merampungkan karya pertamanya, mendesain Gedung Teater Jakarta di Taman Ismail Marzuki. Selepas itu, Raul Renanda lalu berangkat menimba ilmu di Singapura dengan bekerja di William Lim Associates dan 3P Architects, selain melakukan studi di New Zealand di sela-sela waktunya.

Tahun 2002, Raul Renanda kembali ke Jakarta dengan segudang pengalaman baru dan sebagai wadah kreatifitasnya, ia pun membentuk Raul Renanda Design yang dikelola hingga saat ini. Di mulai dari titik inilah, Raul Renanda semakin rajin berkarya dan memberi kontribusi positif terhadap perkembangan arsitektur tanah air.

Filosofi desain Raul Renanda adalah menciptakan desain yang bisa bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Keseimbangan dalam memuaskan klien dan menjaga lingkungan merupakan sebuah tantangan tersendiri yang mau tidak mau harus bisa diselesaikan pada setiap konsepnya.

Ternyata Raul Renanda juga merupakan seorang arsitek yang serba bisa. Dibalik kesibukannya sebagai seorang arsitek, Raul Renanda juga menekuni beberapa kegiatan lain seperti menulis buku, mengisi kolom di sebuah harian tanah air, mendalami fotografi serta melukis. Tulisan yang ia buat diharapkan bisa mengedukasi publik mengenai pentingnya sebuah desain dan apa keuntungannya bagi masyarakat.

Keinginannya terpendam seorang Raul Renanda adalah untuk menciptakan sebuah desain monumental yang terkesan maksimal dan bisa dibanggakan. Raul Renanda mengaku sudah meracik sebuah konsep yang matang secara visual dan tinggal menunggu kesempatan untuk melakukannya.

HARAPAN MASA MENDATANG

Raul juga merupakan seseorang yang concern terhadap perkembangan arsitektur Indonesia. Pertumbuhan ini diapresiasi Raul Renanda secara positif. Menurut Raul Renanda  tingkat kematangan para arsitek tanah air sudah mengalami peningkatan yang lumayan. Raul Renanda yakin, kedepannya para arsitek Indonesia akan mampu menciptakan sebuah karya arsitektur revolusioner yang patut dibanggakan.

Menurut Raul Renanda, ada beberapa pembenahan yang perlu dilakukan agar para arsitek lokal bisa bersaing lebih baik dengan arsitek luar negeri, diantaranya adalah keharusan untuk memiliki pemahaman lebih terhadap unsur budaya dan rancang bangun tradisional karena karakter inilah . Selengkapnya di Majalah Home Diary edisi ke-4

0 1459
Profile---Yu-SIng
Profile - Yu Sing | Foto: Bambang Purwanto

Menghadirkan arsitektur untuk semua kalangan sembari berupaya memahami interdependensi antara alam, budaya, dan arsitektur.

Bicara soal profesi arsitek, biasanya kita akan langsung terbayang pada proyek tempat tinggal mewah, mall, ataupun perkantoran elit berdana besar yang hanya dapat dilaksanakan oleh pemodal besar dan orang-orang “berada”. Terkadang justru hanya menyisakan sedikit lahan bagi sebagian besar masyarakat untuk menghidupi diri. Hal inilah yang menjadi perhatian Yu Sing, arsitek muda asal kota Bandung, yang perawakan maupun karya-karyanya sudah tak asing lagi di Indonesia, bahkan kawasan Asia. Semangat eksplorasi desain dalam dirinya ternyata memiliki kepercayaan yang kuat untuk menjaga hubungan baik dengan alam sekitar.

ARSITEK MUDA

Kiprah Yu Sing dalam bidang arsitektur dimulai setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1999. Selepas kuliah, Yu Sing langsung mulai mewujudkan cita-citanya dalam menggeluti bidang desain arsitektur dengan membangun studio Genesis. Di sini Yu Sing mencoba menggali lebih jauh ide-ide mengkreasikan sebuah hunian bergaya kontemporer yang mengekspresikan adanya keseimbangan serta keramahan terhadap lingkungan. Kemampuann Yu Sing mengolah tema sustainable green home ternyata diterima dengan baik dan karya-karyanya mulai diminati masyarakat.

Perubahan kembali terjadi di tahun 2011, studio miliknya berganti nama menjadi Akanoma, singkatan dari ‘akar anomali’. Yu Sing kini lebih fokus terhadap masalah-masalah sosial dalam masyarakat dan mulai mencoba berperan lebih aktif sebagai penggagas beberapa ide untuk menyelesaikan permasalahan sosial yang terjadi terutama dalam bidang perumahan dan lingkungan. Inspirasi yang diperoleh Yu Sing berawal dari berbagai sumber dan kerap dipergunakan untuk menggali lebih banyak ide agar tercipta karya yang lebih baik.  Hal tersebut menjadikan Yu Sing menjadi sesosok pribadi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Paling tidak dapat dilihat dari keseriusan Yu Sing dalam ‘mendidik’ klien untuk menggunakan desain yang lebih ‘hijau’. Selengkapnya di Majalah Home Diary edisi ke-3

0 2126
People, Hidajat Endramukti
People, Hidajat Endramukti | Foto: Koleksi Hidajat Endramukti

Beberapa dekade berkarya menjadikan Hidajat Endramukti salah satu perupa interior terkenal di Indonesia./

Profesi desainer interior bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dilakukan. Bukan hanya membutuhkan pengetahuan luas mengenai tata visual ruangan, pekerjaan ini juga memerlukan kepekaan dan keterampilan terasah untuk menempatkan berbagai elemen arsitektur di tempat yang benar. Hal inilah yang telah dilakukan Hidajat Endramukti selama bertahun-tahun dan menjadikannya interior designer kenamaan tanah air. Tangan dinginnya dalam mengkreasikan interior telah banyak berkontribusi mendesain berbagai macam proyek kediaman  ataupun komersil di belahan tanah air.

IMPIAN MASA KECIL. Menghabiskan masa kanak-kanak di kota Malang, Hidajat Endramukti sedari kecil mengagumi arsitektur bangunan kuno dan rumah-rumah yang ada di sana. Tekadnya menjadi seorang arsitek berjalan mulus karena adanya dukungan orang tua yang menyarankannya untuk menimba ilmu di Belanda. Lulus dari SMA Saint Albertus Malang pada 1977, Hidajat Endramukti langsung berangkat ke negeri kincir angin untuk mewujudkan mimpinya. Pada awalnya, Hidajat Endramukti lebih memilih untuk melanjutkan studi ke Australia, namun karena berbagai pertimbangan, akhirnya Belanda menjadi pilihan akhirnya.  Selengkapnya di Majalah Home Diary edisi ke-2 

0 1479

Eksplorasi seorang Yori Antar yang mengantarnya kepada inspirasi yang tidak ada batasnya dari budaya
dan arsitektur tradisional di Nusantara.

Namanya sudah begitu dikenal sebagai salah satu arsitek yang mengembangkan dinamika arsitektur di Indonesia hingga saat ini. Karya arsitekturnya telah tersebar di beberapa daerah di Indonesia dan ikut membangun wacana bangunan rumah modern di Indonesia. Namun, perjalanan dan eksplorasinya tidak berhenti dalam karya-karyanya. Hobi fotografi dan ketertarikannya untuk travelling, mempelajari, dan menemukan hal baru membuatnya selalu semangat dan peduli untuk lebihdalam mengamati dan mempelajari pengetahuan baru.
Nilai dan budaya lokal kemudian mulai mengusik ketertarikannya, hingga akhirnya Yori Antar memulai gerakan bernama Rumah Asuh. “Arsitek jaman sekarang itu mestinya jauh lebih beruntung, karena jaman saya tidak diajarkan arsitektur Nusantara melainkan lebih banyak mengambil contoh dari karya-karya arsitek modern dari luar negeri.
Harapan saya, Rumah Asuh ini bisa membuat kita melihat kembali arsitektur Nusantara”, jelas Yori. Ketika ditanya bagaimana perkembangan arsitektur di Indonesia saat ini, Yori melihat ada hal positif yang telah jauh berkembang dibandingkan pada jamannya. Arsitektur telah menjadi berita dan diliput oleh berbagai media. Hal ini menjadi hal spesial yang harus dicermati. “Pada dasarnya arsitek harus bisa dekat dengan masyarakat, karena saling membutuhkan.

Dengan begitu arsitek bisa melihat permasalahan sehari-hari dan mencarikan solusi terbaik dan selalu menjadi down to earth terhadap hal kekinian”, Yori menambahkan. Arsitek masa kini mestinya tidak hanya berkiblat pada arsitek luar negeri, tetapi mengulik potensi lokal yang kemudian dikombinasikan dengan paradigma bangunan modern dan teknik industrial yang dikenal saat ini. “Kedua hal tersebut bila digabungkan akan menjadi sumber inspirasi yang tidak terbatas. Kita semestinya bisa menginspirasi dunia, disinilah arsitek muda harus trampil dan memiliki wawasan luas”, Yori berkomentar tentang penggabungan sudut pandang modern dan detail serta ketrampilan tradisional. Obsesinya adalah menghasilkan karya arsitektur yang baik dan benar, benar dari segi desain, tetapi juga benar dari segi sikap. Dia sendiri tidak pernah tahu apakah sudah berhasil berkarya dengan baik dan benar, tetapi semangatnya masih terus membara untuk berkarya. “Arsitek itu harusnya tidak hanya berhenti pada mendesain bangunan, dia semestinya memberikan sumbangan pemikiran untuk mencari solusi paling baik untuk pemecahan masalah sosial budaya di masyarakat”, dia menjelaskan ideologinya.