HomeDiary - Majalah Arsitektur dan Interior
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Eztu Glass, a Stained Glass Art

Kaca patri diciptakan pada abad X hingga XI di Eropa. Di Indonesia sendiri, seni kaca patri mulai diaplikasikan pada bangunan besar mulai pertengahan tahun 1800. Namun sejak perang dunia ke-2, produksi kaca patri secara perlahan mulai terkikis, mulai hilang, dan terlupakan karena Pemerintah Kolonial Belanda berhenti membangun koloninya. Eztu Glass Art, milik pengusaha ternama Brian Yaputra, lahir sebagai pelopor seni kaca patri Indonesia sejak 1981. Beliaulah yang telah membangkitkan kembali karya seni kaca patri berkualitas tinggi yang sempat hilang dan dilupakan di negeri ini. Eztu Glass Art memfokuskan diri di bidang kaca, selain kaca patri. Eztu Glass Art bahkan telah mampu memproduksi dalam ukuran besar. Sampai akhir 2013 karya Eztu Glass Art telah menghiasi sekitar 200 rumah ibadah yang tersebar di Nusantara, Saudi Arabia, Dubai, Afrika Selatan, Singapura, Jepang dan sekitar 30 buah di Hongkong. Juga puluhan proyek monumental, meliputi Istana Bukit Khayangan di Brunei Darussalam, Disney Land Hong Kong, dan Smith’s Museum of Stained Glass Window di Navy Pier, Chicago IL, USA… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #010/2015)

HomeDiary

Add comment