HomeDiary - Majalah Arsitektur dan Interior
TekslFoto; Ima Purbasari

Fauzy Prasetya Kamal, Membawa Tembikar Lombok ke Level Dunia

Tembikar Lombok, Kandura Studio, dan Fauzy Prasetya Kamal. Tiga identitas ini kini menjadi satu kesatuan yang mulai dikenal di ajang desain internasional. Dimulai setelah pria alumnus Jurusan Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung ini mendirikan Kandura Studio di Kota Bandung pada 2005 bersama dua rekannya, Batsebha Satyaalangghya dan Tisa Granicia. Kandura Studio menjadi cikal bakal wadah ia bereksperimen dengan material keramik yang lalu menjelma menjadi produk yang mempunyai nilai lebih.

Kala redaksi Home Diary temui di ajang International Furniture Fair Singapore (IFFS) 2019 lalu, Kandura Studio meluncurkan koleksi baru tablewareyang terinspirasi dari karya tradisional tembikar Lombok. Disematkan nama “Meno”, diambil dari salah satu nama pulau di Lombok. TablewareMeno bermaterikan terakota, dihasilkan dari perpaduan proseshand madedan fabrikasi. Karya khas Lombok ber-finishinglicin ini memancarkan keindahan tersendiri. Fauzy dan tim memiliki visi tidak hanya ingin perangkat makan tersebut dilestarikan secara fisik, tetapi ingin juga melestarikan proses pembuatannya, upaya pembelajaran budaya lokal terkait, mulai dari pilihan material, finishing, serta kegunaannya. Untuk itulah, sebagai sebuah proyek holistik, Fauzy dan tim serius melakukan pula tahapan survei dan eksperimen sebagai bagian dari proses pra produksi.

Di agenda IFFS 2019 tercatat delapan desainer Indonesia yang berpartisipasi dan dirangkul di bawah nama Made-in. Adapun latar titleini adalah hendak menceritakan potensi sebuah negara dalam karya desain dengan menunjukkan karakter khasnya. Itulah sebabnya produk-produk yang diangkat Made-in mempunyai ciri khas karya lokal Nusantara secara material, seperti tembikar, rotan, dan kayu. Dan dalam hal ini tembikar diwakili oleh Kandura Studio. “Dengan keberagaman masing-masing desain tersebut kita mewakilli Indonesia, menunjukkan potensi desain yang ada, dan menceritakan narasi yang kita punya. Selanjutnya, hal yang hendak dicapai adalah stepmemiliki relasi baru, distributor, proyek baru, sales, dan seterusnya. Pada akhirnya, tujuan utama kami adalah menambah networkinguntuk mengukur sampai di mana potensi desain kita,” imbuh Fauzy.

Kandura Studio telah ikut menyemarakkan kawasan Jakarta, tepatnya di Jalan Bangka IX no. 64, Pela Mampang, Jakarta Selatan, melengkapi keberadaan studio mereka terdahulu di Kota Bandung. Selain mendisplai ragam produk untuk dinikmati dan dibeli, di sini juga kerap diadakan agenda workshop membuat aneka keramik dengan jadwal yang dapat Anda ikuti pada IG @kandurastudio atau website www.kandurastudio.com.

Di akhir bincang, Fauzy menyampaikan masukan bagi para desainer muda Indonesia, jika ingin sukses, “Harus konsisten dalam berkarya agar dapat berkembang menjadi lebih bagus, “ tuturnya. Seperti halnya Fauzy dan tim yang telah bertekad agar perangkat makan tembikar khas Lombok ini tidak semakin menghilang di atas meja makan di kampung asalnya. Alhasil, bagi kehidupan modern pun perangkat makan Meno kini telah bersanding dengan tatanan tablewaremodern. Sebuah ide menawan yang akan semakin menonjolkan eksotika sang Meno.

homediary