HomeDiary - Majalah Arsitektur dan Interior
Teks: Lisa Elizabeth l Foto: Sonny Sandjaya Photography ( Portfolio Dasquadrat )

Hunian Idaman yang Sehat bagi Pasangan Muda

Penulis: Lisa Elizabeth Mahasiswa Desain Interior Universitas Petra

Ada banyak cara untuk menghadirkan rumah idaman yang sehat di dalam lingkungan perkotaan. Seperti menyediakan area hijau, membuat ventilasi yang tepat hingga pemakaian material yang ramah lingkungan. Akan tetapi banyak orang berpikir bahwa rumah yang sehat memerlukan lahan yang cukup luas, adalah problem utama bagi para pasangan muda yang baru memiliki rumah. Tentu luasan lahan rumah yang dimiliki oleh pasangan muda kebanyakan tidak besar sehingga untuk menerapkan prinsip rumah idaman yang sehat seperti hanya angan-angan saja. Rupanya hal ini dimengerti oleh dua arsitek Surabaya yang selalu menghadirkan aspek sustainable design pada setiap rancangannya. Adit dan Enoch dari biro arsitek Dasquadrat berupaya untuk menghapus mindset bahwa rumah sehat harus memiliki luasan yang besar. Akhirnya mereka diberi kesempatan untuk merancang rumah pasutri muda yang memiliki luasan 125 m2 di kota Surabaya tepatnya di jalan Suterejo.

Prinsip desain rumah idaman yang sehat dan ramah lingkungan menurut Adit dan Enoch adalah rumah memiliki pertukaran udara yang lancar serta memiliki area hijau di sekitar rumah. Ke dua hal ini harus saling terkait satu sama lain ketika merancang sebuah hunian. Pertukaran udara yang lancar membuat ruang yang ada dalam rumah tidak lembab. Pertukaran udara yang sehat ini dapat diciptakan melalui salah satunya dari area hijau yang ada di dalam rumah. Area hijau yang ada didalam rumah juga secara langsung mempengaruhi bentuk arsitektur rumah untuk membuat area terbuka ataupun void skylight. Dengan adanya area hijau, baik itu taman kering maupun taman basah, membuat sirkulasi udara dan pencahayaan matahari dapat terdistribusi dengan baik.

“Konsep yang diterapkan pada rumah ini sebenarnya simple saja, klien kami ini ingin memiliki rumah yang unik, terang dan spacious dengan keterbatasan lahan yang ada” ujar sang arsitek. Saya dan klien terinspirasi dari arsitek-arsitek jepang, jelas Adit saat diwawancara. Arsitek yang sudah 14 tahun bergelut dalam bidangnya ini yakin untuk memberikan taman pada hunian dalam bentuk inner courtyard. Menurut Enoch, Inner courtyard merupakan salah satu cara agar alam dan suasana luar dapat terasa didalam rumah tetapi memiliki maintenance yang mudah. Sebenarnya fungsi utama taman yang diletakan di tengah hunian adalah untuk memasukan cahaya matahari dan membuat ruangan bercahaya dengan sinar matahari yang menerobos, sehingga secara tidak langsung penggunaan lampu dapat dikurangi secara maksimal. Pemakaian material kaca transparan sebagai pengganti dinding dan perwarnaan ruangan yang cenderung cerah juga sangat membantu memberikan effect luas, lapang dan tentunya terang.

Bagian depan hunian ini menghadap barat secara langsung memberikan tugas tambahan untuk para arsitek dalam menyelesaikan masalah tersebut. Seperti yang kita tahu bahwa rumah menghadap barat akan terasa lebih panas jika dibandingkan rumah yang menghadap sisi mata angin lain, dikarenakan cahaya matahari sore yang masuk membawa hawa udara yang cukup panas kedalam hunian. Oleh karena itu Adit dan Enoch memberikan secondary skin berupa kisi-kisi pada bagian depan bangunan dan juga koridor dibalik kisi-kisi yang bertujuan agar panas sore tidak langsung mengenai dinding ruangan yang secara tidak langsung AC ruangan dapat berkerja lebihringan. Sirkulasi udara alami juga dapat maksimal dengan adanya taman. Lagi-lagi inner courtyard memiliki bagian penting dalam mengurangi penggunaan AC dan dapat menciptakan lingkungan rumah yang sehat serta hemat energi.

Rumah dengan dua tingkat ini bisa dibilang memiliki keunikan tersendiri. Keunikan tersebut adalah pemakaian ramp untuk akses vertikal di lahan terbatas yang tentu saja menjadikan tantangan bagi arsitek. Adit menginisiasi untuk ramp dibuat mengelilingi rumah sehingga pemakaian lahan yang luas untuk ramp dapat diatasi. Penggunaan ramp ini mengajak klien untuk memiliki pengalaman ruang yang unik dan tidak biasa. Ramp ini juga berfungsi sebagai pembatas agar bangunan induk tidak langsung menempel pada dinding tetangga Diatas ramp juga diberi skylight agar rumah senantiasa diterangi oleh cahaya matahari pada waktu siang hari. Karena menggunakan ramp sebagai akses vertical, ruang-ruang yang ada pada rumah ini memiliki ketinggian yang tidak sama dan berpola zig zag.

Ketika pertama kali memasuki hunian, kita akan disambut langsung oleh ramp yang mengarahkan kita naik keruang tamu. Sebelum sampai di ruang tamu kita akan disajikan pemandangan inner courtyard yang berada di tengah bangunan. Ruang tamu sendir imemiliki suasana hangat karena pengaplikasian lighting yang berwarna kuning dan material kayu pada perabot. Ukuran ruang tamu bisa dibilang tidak besar, akan tetapi dengan penggunaan material kaca sebagai pengganti dinding membuat ruangan ini terlihat lapang.

Ruang tidur utama berada pada lantai dua, didalam ruang tidur utama terbagi lagi menjadi ruang tidur, ruang baju atau biasa kita sebut walk in closet (WIC) dan kamar mandi utama. Selain penggunaan lantai bermotif kayu yang memberikan kesan hangat, gaya minimalis juga diterapkan pada kamar tidur dan WIC dengan pemilihan warna dinding dan warna perabot yang bernuansa putih. Terdapat kaca besar yang mengarah langsung pada inner courtyard sehingga secara langsung pencahayaan alami dapat masuk dengan maksimal. Ruang tidur utama berada pada orientasi timur sehingga area ini merupakan area yang paling nyaman dari segi penghawaan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dinding pada ruang tidur ini tidak menempel langsung pada dinding luar ditambah dengan pengaplikasian ramp yang mengelilingi hunian bertujuan agar memberikan privasi kepada penghuni rumah.

Dapur dan ruang makan berada pada area yang sama di lantai dasar. Pada sore hari ruangan ini akan berasa lebih panas karena orientasi ruangan berada disebelahbarat. Area ini menempel pada dinding luar, tidak ada pembatas baik ramp maupun koridor pada area dapur. Untuk mengatasi permasalahan penghawaan ini, arsitek membuat akses terbuka yang mengarah pada taman. Ruang makan dibatasi oleh kaca transparan besar yang dapat dibuka maupun ditutup sesuai kebutuhan.

homediary