HomeDiary - Majalah Arsitektur dan Interior
TekslFoto: Umi Key

PERJALANAN MASYARAKAT DAYAK Dl SUNGAl UTIK BERADA DI ANTARA TRADISI DAN ARUS MODERNISME

Homediarymagazine.com – Jakarta : Perubahan jaman merupakan sebuah perubahan yang akan selalu terjadi sejalan dengan waktu. Manusia sebagai agen lnovasi akan selalu menemukan cara baru, pemahaman baru, dan bahkan kegiatan baru untuk meningkatkan kualitas hidup dan memanfaatkan sumber daya alam semaksimal mungkin. Arus modernism menjadi semakin melaju dengan tuntutan manusia modern yang semakin menuntut kemudahan dan kepraktisan dalam setiap aspek kehidupan. Kondisi ini sangat dirasakan oleh masyarakat di perkotaan dan daerah yang telah merasakan kemajuan. Namun, bagi masyarakat tradisional yang masih memiliki jarak dengan peradaban masa kini, terdapat perbedaan yang cukup lebar dan menggerus eksistensi budaya, tradisi, dan local wisdom yang dianut oleh masyarakat tradisional.

Hal inilah yang menginspirasi Yayasan Widya Cahaya Nusantara (YWCaN) untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat tradisional Suku Dayak lban yang tinggal di Sungai Utik, pedalaman Kalimantan. Berkolaborasi dengan Rumah Asuh dan Tirto Utomo Foundation yang memang memiliki visi yang sama mendampingi Suku Dayak lban di Sungai Utik untuk bisa mempertahankan karakter, tradisi, dan juga kepercayaan tradisional ketika masyarakat disitu berinteraksi dengan perubahan jaman dan modernisasi.

Melalui pendampingain ini YWCAN, Rumah Asuh, dan Tirto Utomo Foundation memiliki harapan besar agar bisa mengurangi tergerusnya budaya dan tradisi lokal mereka meskipun tetap berinteraksi dengan peradaban masa kini dan modernisasi. Oleh karena itu salah satu bangunan yang akan segera direalisasikan adalah bangunan rumah budaya yang akan mewadahi aktivitas masyarakat tradisional dan menjadi jembatan bagi generasi yang lebih muda bisa tetap mempelajari kebudayaannya sendiri dan sekaligus tetap berinteraksi dengan segala kemajuan dan perubahan jaman.

“Ada banyak hal yg istimewa dari masyarakat Sungai Utik melalui local wisdom mereka berhasil mempertahankan Hutan Adat dan Budaya (hutan adat 10.000 ha). Dan hutan adat ini menjadi bagian dari Hutan paru-paru dunia. ” jelas Brunoto Arifin dari YWCaN. Upaya pendampingan ini ternyata sejalan dengan kekhawatiran para tetua adat Suku Dayak lban sendiri. Keinginan mereka untuk maju membuat mereka khawatir akan kerusakan hutan yang selama ini mereka jaga dan menjadi bagian inheren dari adat istiadat mereka.

“Selain Rumah Budaya yang menjadi galeri budaya dan wadah bagi pemberdayaan masyarakat, satu lagi bangunan yang akan dibangun, yaitu rumah ibadah Gereja Katholik yang dirancang dengan menggali nilai nilai dan kearifan lokal setempat,” papar Yori Antar, Founder Rumah Asuh dan Principal Han Awal & Partner. Dua bangunan inilah yang menjadi highlight dari pameran Mother Earth & Architecture yang diselenggarakan tanggal 28 November -7 Desember 2019 dalam rangka Bintaro Design District 2019 dan berlokasi di kantor Han Awal & Partners.

Beragam kegiatan menjadi rangkaian acara yang meramaikan pameran tentang kehidupan Suku Dayak Iban di Sungai Utik ini. Beberapa workshop oleh Demi Bumi yang diselenggarakan pada tanggal 30 November 2019 yang lalu sebagai perwujudan inspirasi dari semangat Suku Dayak Iban menjaga alam. Sementara itu, di SDN Pondok Pucung yang tidak jauh dari kantor Han Awal &Partners, dibuat instalasi ”Peek A 800” yang terdiri dari 4 kotak stainless steel untuk menarik perhatian para pelajar SD mengintip ke dalam kotak tersebut.

Selain itu, sebuah talkshow akan diselenggarakan pada tanggal 4 Desember 2019 membahas lebih dalam mengenai proses pendampingan masyarakat Suku Dayak lban di sungai Utik dan bagimana desain rumah budaya dan gereja nantinya mampu menjadi representasi dari karakter dan tradisi mereka. Dalam talkshow tersebut, akan hadir Apai Janggut, tetua Suku Dayak Iban.

Puncaknya adalah acara “Dayak Melihat Dunia” yang akan diselenggarakan pada tanggal 6 Desember 2019. Dengan menghadirkan atraksi tarian Dayak, seni tattoo Dayak, booth borneo chic, booth Demi Bumi, danjuga pertunjukan musik dengan alat musik khas Dayak yang disebut Sape. Melalui acara ini YWCaN, Rumah Asuh, dan Tirto Utomo Foundation mengharapkan dunia bisa lebih mengenal keindahan dan Iuhurnya budaya Suku Dayak Iban di Sungai Utik ini serta membuka mata kesadaran dan apresiasi public terhadap kehidupan masyarakat tradisional yang perlu terus didampingi agar tradisi dan budaya mereka tidak tergerus oleh perubahan jaman.

homediary