Authors Posts by HomeDiary Magazine

HomeDiary Magazine

265 POSTS 0 COMMENTS
Kami yakin sebuah karya desain bukanlah sesuatu yang kaku dan monoton, melainkan dapat menjadi sesuatu yang dinamis, ceria, dan penuh warna, sehingga dapat menjangkau hati para pembaca untuk menjadi lebih nyaman dan senang. Kami mengedepankan fitur tren dan berita terkini seputar desain arsitektur, interior, dan produk Indonesia serta manca negara, sehingga Majalah Home Diary menjadi inspirasi dan referensi gaya hidup bagi para pembaca sekalian.Kami akan selalu mengunjungi Anda dengan menyuguhkan artikel-artikel yang sangat komprehensif, termasuk foto – foto yang indah dalam kemasan penuh warna dan menarik. Workshop: Jl. Gotong Royong Raya No. 3 RT/RW 04/06, Kel. Gandaria Utara, Kec.Kebayoran Baru Jakarta Selatan Hotline #s 0852 1850 4131 / 021 9247 9767 Marketing & Promotion #s 0817 8671 57 / 0852 1850 4131

0 465

Hello, dear inspiring friends.
“With the new day comes new strength and new thoughts” – Eleanor Roosevelt. Selamat Datang Tahun 2016! Ada yang berpendapat tidak ada yang baru di bawah pancaran sinar Matahari, tetapi di tahun ini, semoga Matahari bersinar lebih cerah untuk mengungkapkan ide dan skema baru yang lebih segar, seperti tren desain, produk, atau skema warna yang pastinya akan mempercantik hunian kita serta meningkatkan kenyamanan, baik di dalam atau di luar ruangan.
Pada kesempatan Home Diary edisi ke-13 ini, kami menyajikan direktori visual yang indah bersamaan dengan tren yang komprehensif untuk menjadi inspirasi dan pertimbangan serta mencari produk baru yang menarik dan inovatif. Edisi ini penuh dengan ide-ide segar dalam tampilan-tampilan desain modern atau kontemporer dengan sentuhan personal yang dapat membantu untuk mengidentifikasi tren terkemuka perabot, pencahayaan, dan aksesoris bagi hunian kita. Diharapkan para penikmat Home Diary Magazine menemukan inspirasi yang akan membawa kita jauh dari rutinitas dan merupakan surga bagi imajinasi kita.
Selamat Menikmati.

0 712
Sparkling Eclectic Christmas Eve Dinner
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Suasana festive di Oasis Restaurant pada malam Natal begitu terasa istimewa. Syahdunya malam Natal melebur dalam atmosfer glamor Christmas Eve Dinner dalam balutan tata hidang berkonsep eklektik. Ekspresinya terelaborasi pada tatanan perangkat tata saji padu padan. Taplak antik warna hijau velvet yang diperoleh dari Sunday Market di Kota Paris disanding dengan nuansa Nusantara koleksi tableware berupa fine porcelain motif Songket Palembang warna emas berhiaskan nuansa merah marun dan forest green yang merupakan karya desainer ternama Ghea Panggabean.
Nuansa elegan tampil menakjubkan dengan kehadiran motif tradisional Sumatra pada bagian atas handcrafted teak wood chargers yang kaya ber-finishing gold leaf. Candle light menciptakan atmosfer kian romantis, membiaskan impresi glamor seperti halnya pancaran yang memantul dari gelas wine kristal dan European silver heirloom sendok garpu bersentuhan vintage.
Bingkisan-bingkisan hadiah untuk orang-orang terkasih ditata melebur bak ornamen penghias table setting, dikawinkan dengan kehadiran gourmet chocolates dan buah-buahan segar yang dipersiapkan bagi tamu istimewa di pesta dinner privat. Rangkaian bunga mawar merah yang simpel nan elegan dengan mawar putih sebagai centerpiece bersama baby’s breath menyumbangkan pula kesan mewah, terangkum dalam Austrian crystal pedestals. Dalam ekspresi luxurious, sentuhan lain yang memperkaya adalah crisp white line napkins yang dipasangkan dengan silver napkin rings serta botol wine gaya hand-cut diamante.
Nuansa theatrical hadir melalui kepiawaian James De Reva, sang cultural liaison, menyuguhkan Malam Natal inspiratif nan intimate. Menjadi malam tak terlupakan bersama orang-orang terdekat di Oasis Restaurant. Merry Christmas and Happy New Year!

0 1007
Kawung Villa, Tropical Luxury Resort
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Nusantara begitu kaya dengan pesona alami yang menjadi magnet bagi warga mancanegara untuk singgah, bahkan bisa dilakukan berkali-kali. Dan hingga kini Pulau Dewata menjadi salah satu destinasi favorit berkat kolaborasi eksotika alam dan seni budayanya. Vila-vila dibangun dengan tetap mengagungkan kekuatan arsitektur lokal yang melebur dengan naungan hijaunya taman alami, mengelilingi ruang demi ruang.
Vila Kawung hadir di Jl. Pantai Batu Bolong No. 66 Pantai Canggu, Bali merepresentasikan bahasa desain yang ditujukan untuk memanjakan pengunjung dengan segala pesonanya. Bangunan berdiri dalam bentuk dua massa bangunan yang meliputi satu massa bangunan sebagai area tamu dan satu bangunan lain berperan sebagai area tidur. Penegasan art of architecture di sini membawa konsep-konsep yang terinspirasikan oleh peleburan nilai-nilai lokal dan kekuatan alami. Yaitu, yang pada akhirnya menciptakan tropical luxury resort yang memanjakan.
Living area dirancang mengaplikasikan atap pelana yang merupakan hasil modifikasi bentuk atap vernakular supaya memberi kesan luas kepada setiap tamu yang datang, dan dikelilingi unsur natural pada keempat sisinya. Sehingga ketika berpijak di area ini kita seperti merasakan berada di tengah-tengah alam hijau, menyatu di dalamnya. Tak mengherankan karena kehadirannya merupakan hasil kepiawaian sang perancang andal Hidajat Endramukti mengulik desain. Untuk Reservasi, kontak kawung.villa@gmail.com atau +62 (0)818 0634 1738(Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #012/2015)

0 14838
La Jolie Boarding House
Teks: Widya Prawira l Foto: Bambang Purwanto

Bangunan tiga lantai yang terletak di Depok – Jawa Barat ini merupakan rumah kos yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang kuliah di sekitaran Depok – Jawa Barat. La Jolie Boarding House, demikian nama yang diberikan untuk rumah kos ini oleh pemiliknya. Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan. Nama La Jolie diambil dari sebuah kawasan di Perancis, di mana Irwan sebagai pemilik pernah lama menetap di sana sehingga memberikan kesan mendalam.
Lebih dari sekedar rumah kos biasa, desain bangunan ini layaknya budget hotel, yang dilengkapi parkir luas pada lantai basement-nya. Menempati lahan seluas 735 meter persegi yang terletak di tengah perkampungan, rumah kos yang didesain oleh Arsitek Realrich Sjarief dari RAWArchitecture dan dibangun oleh Biro Kontraktor Singgih Suryanto dan Moel Soemadi ini memiliki total luas bangunan 1.035 meter persegi.
Ada beberapa tantangan yang diberikan pada sang arsitek saat mengawali proses mendesain rumah kos ini. Pertama, bangunan harus low maintenance; kedua, bagaimana bangunan tetap dirasakan sejuk tanpa harus mengurangi jumlah kamar; dan ketiga adalah faktor kemudahan dan efisiensi untuk pencapaian bangunan, mengingat pintu masuk yang sempit dan lokasi lahan yang berada di kampung. Selanjutnya konsep desain berangkat dari pertimbangan pencapaian bangunan selebar 3 meter yang terbilang sempit, orientasi matahari, dan skala dengan lingkungan sekitar yang didominasi residensial serta berketinggian rendah… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #012/2015)

0 1638
Nakula House, a Modern Natural Design
Teks: RA Larastio l Foto: Mario Wibowo

Memiliki rumah tinggal bergaya modern dan menyatu dengan alam tropis merupakan impian masyarakat urban masa kini yang mendambakan suasana indoor-outdoor pada lahan yang terbatas. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk merangkul lingkungan di luar ke dalam rumah hunian. Rumah yang memiliki sebutan “Nakula House” di jalan Nakula, Bandung ini memiliki luas bangunan 385 m2, tidak jauh beda dengan ukuran luas lahan yang ada.
Ide rancangan karya Arsitek Halim Agung dan Ruben Hardjanto yang memiliki Biro Kontraktor Bangun Prima Dimensi ini terkesan sangat tropikal, natural dan modern. Yang menjadi dasar dalam mendesign adalah ruangan yang mengalir dengan memasukkan ruang luar menjadi ruang dalam sehingga dengan ukuran masing-masing ruangan yang dipadatkan (dengan bukaan yang besar) masing-masing ruangan tersebut tetap bisa merasakan kesinambungan dengan ruang luar.
Ciri khas yang sangat menonjol dari rumah ini adalah pemanfaatan lebar site (untuk taman) di samping area ruang keluarga, dengan bukaan yang besar membuat luas tapak yang tidak terlalu lebar menjadi maksimal. Atap bangunan bergaya tropis dengan bukaan jendela yang sangat banyak, dapat membantu mengontrol temperatur udara di dalam rumah. Beberapa area juga diberikan kanopi yang lebar untuk mengatasi curah hujan yang besar.Bagian bangunan ini lebih transparan dengan deretan jendela lebar dengan disekat oleh taman depan rumah dan kanopi di tengah bangunan yang menaungi pintu masuk utama. Taman depan diolah menjadi zona pendukung untuk melengkapi tampilan fasad hunian… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #012/2015)

0 1614
Tjipta House, Synergized Tropical House
Teks: RA Larastio l Foto: Bambang Purwanto

Rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal suatu keluarga, tetapi juga dapat mencerminkan karakter pemiliknya melalui desain yang tercipta. Sebuah hunian harus senyaman dan seramah mungkin bagi orang-orang yang tinggal dan berada di dalamnya. Karena impian setiap orang akan rumah idaman tidak selalu sama. Namun ada satu hal yang sama di setiap desain, yaitu keinginan untuk mendapatkan rasa nyaman dan aman di griya tempat mereka beristirahat dan berkumpul bersama keluarga.
Itulah yang dilakukan seorang Arsitek Gerard Tambunan dari Wahana Architects pada rumah seluas 450 meter persegi yang berlokasi di Modern Land ini. Dibangun oleh Biro Kontraktor Dimigo Pratama, prinsip yang dipegang sang arsitek pada rumah yang dinamakan Tjipta House ini adalah membuat rumah baru dengan penambahan fungsi ruang baru dari rumah lamanya. Bentuk sederhana namun cukup mewakili semua aktivitas sehari-hari seluruh keluarga merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh pemilik rumah.
Latar belakang konsep adalah penyesuaian karakter pemilik yang sederhana dengan mengimplementasikan arsitektural yang dieksplor secara sederhana pula. Dengan menangkap kekuatan dari lingkungan sekitar juga. Ide berangkat dari keinginan pemilik rumah yang tidak ingin terlalu mengeksplorasi bentuk bangunan secara ekspresif. Rumah yang terdiri dari dua lantai ini dibuat sekompak dan seefektif mungkin. Bagian-bagian rumah dibuat sangat fungsional untuk memenuhi kebutuhan penghuninya. Dengan pembagian zona ruangan yang terbagi menjadi tiga bagian. Antara lain area privat yaitu kamar dan ruang belajar yang ditempatkan di lantai teratas, sedangkan lantai 2 untuk area publik (ruang bersama) dan area servis yang terdiri dari basement ditambah dengan ruang hobby… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #012/2015)

0 922
Lavender House, a Modern Tropical Touch
Teks: RA Larastio l Foto: Bambang Purwanto

Suasana alami, nyaman, sejuk dan mewah yang tercipta dalam sebuah hunian dapat memberikan inspirasi untuk membangun rumah tinggal bergaya modern bertaman tropis. Seolah-olah kita bukan berada di tengah kota metropolitan. Seperti yang terpampang pada sebuah rumah tinggal besutan Arsitek Djoni Salim dan Yerianto Imaryanto, serta Biro Kontraktor Dimigo Desain yang berlokasi di Alam Sutera ini. Pemilik rumah ini menginginkan elemen-elemen natural dapat diaplikasikan di dalam rumahnya. Bangunan rumah tinggal dengan luas tanah 450 meter persegi ini berada di kavling sudut. Ketertarikan pemilik rumah terhadap rumah tropis yang dekat dengan alam tercermin pada keberadaan pepohonan yang dipertahankan di samping bangunan. Menjadi salah satu elemen yang memperkuat konsep desain tropis tersebut.
Dekorasi eksterior sekitar rumah tak selalu harus dengan detail yang beragam. Detail sederhana pun sudah dapat membuat suasana nyaman. Pengaplikasian material alam sudah dapat mewakili unsur kenyamanan tersebut. Dinding dari terakota Bali yang dipotong menyerupai ukuran batu bata merupakan aksen utama dari bangunan tersebut secara keseluruhan. Sedangkan pada bagian fasad depan rumah, dinding batu karangasem yang paling menonjolkan karakter natural.
Elemen hardscape dan softscape pada area kolam renang menjadikan eksterior rumah terasa sejuk dan menyegarkan. Deck kolam renang dari bahan kayu ulin dengan warna natural serasi dengan border kolam renang dari bahan batu andesit. Kesan teduh dari ruang keluarga dengan adanya kolam renang diperkuat dengan tanaman rambat pada dinding pembatas dengan tetangga… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #012/2015)

0 620
Oasis Restaurant, the Art of Culinary
Teks: Chandra Sumawinata l Foto: Bambang Purwanto

Faktor historical attraction benar-benar dimanfaatkan sebagai pesona yang kuat di Oasis. Bangunan asli tahun 1928 peninggalan zaman kolonial Belanda yang dahulunya dikenal sebagai rumah pribadi F. Brandenburg van Oltsende, sang jutawan rempah rempah, masih berdiri kukuh menyambut penikmat kuliner fanatik yang mengerti akan seni dan prestise.
Sebagai salah satu dari resto tua terkemuka di Ibukota, Oasis memang memiliki kekhususan tersendiri. Ia dikenal sebagai resto berkelas yang seringkali menerima kedatangan tamu-tamu resmi negara maupun pesohor dunia. Rancang arsitektur tempo dulu dipertegas dengan dekorasi interior berhiaskan sederet furnitur dan unsur dekoratif antik yang bernilai seni tinggi, berkelas premium, dan dipastikan original. Seperti museum hidup. Karenanya, hanya kalangan tertentulah yang mengagumi value bersantap di sini, yang akan rela berlama-lama duduk, rileks, berdiskusi seni seraya menyantap menu premium. Pengalaman bersantap yang sungguh berbeda.
Ketika didirikan pada tahun 1979 konsep culinery of art memang telah dicanangkan. Oasis ingin mengangkat inspirasi kekayaan budaya pada pengalaman berkuliner. Didukung oleh interior ruang yang berkarakter Indonesia, menu makanan tradisional menjadi sesuatu yang berkelas, disajikan semenarik mungkin, dan yang teristimewa adalah pelayanan ala rijsttafel yang menjadi andalan resto. Ritjsttafel merupakan cara makan yang pertama kali muncul saat era kolonial Belanda. Arti kata itu sederhana saja, meja nasi, tapi menu yang terhidang lebih dari nasi. Di Oasis, setiap tamu yang memesan ala ritsttafel mendapat selusin jenis makanan yang berbeda, jadi membutuhkan waktu cukup lama untuk mengkonsumsi semuanya… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #012/2015)

0 960
Realrich Sjarief, Developing Indonesia via Architecture
Teks: Reki Desma l Foto: Bambang Purwanto & Koleksi Realrich Sjarief

Pencapaian seseorang tidak hanya terlihat dari seberapa banyak ia menghasilkan karya, namun juga kontribusinya untuk disiplin ilmu yang dianutnya. Lebih jauh lagi, adalah kewajiban untuk menurunkan ilmunya kepada generasi baru yang akan melanjutkan perkembangan dan menyempurnakan pengetahuan yang telah ada.
Hal inilah yang mendefinisikan seorang Realrich Sjarief: seorang arsitek kenamaan yang menjadi salah satu generasi terdepan di kalangan arsitek dan desainer tanah air. Kesibukan profesinya tidak membuatnya lupa untuk meluangkan waktu demi membagi ilmu dan pengalamannya untuk mencetak bibit-bibit arsitek unggul di masa depan.
Jalan Realrich untuk menjadi seorang dimulai sejak lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2005, ia berpraktek di beberapa biro ternama baik di dalam maupun luar negeri, antara lain Urbane Indonesia di Bandung, DP Architects di Singapore, dan Foster and Partners di London, biro yang dimiliki Lord Norman Foster, arsitek peraih Pritzker Prize sebagai penghargaan bergengsi di arsitektur.
Masa – masa belajar di ITB berperan besar dalam membentuk karakter Realrich, di mana pengalaman kuliah bersama dosen – dosen terbaik, pengalaman organisasi bersama IMA Gunadharma, dan pengalaman bersosialisasi dengan berbagai budaya yang ada di kampus membawa pola pikir dan sikap untuk selalu belajar di manapun ia berada.
Di London, ia dan timnya sempat berkolaborasi dengan Muir Livingstone, Iwona Schwedo Wilmot, dan John Blythe, associcate, partner, dan senior partner di Foster and Partners untuk mendesain beberapa bangunan seperti Masdar City dan Al-Reems Island Apartment di Abu Dhabi serta YTL headquarter di Kuala Lumpur. Realrich juga menjadi anggota afiliasi dari Royal Institute of British Architect (RIBA).
Setelah mengenyam berbagai pengalaman, ia lalu memutuskan untuk meneruskan gelar master di urban desain and development di University of New South Wales (UNSW) Australia dengan studi master of urban design di bawah bimbingan Jon Lang dan James Weirick. Di sini ia berhasil lulus secara memuaskan, dan sekembalinya ke Jakarta, Realrich memberanikan diri mendirikan biro desainnya sendiri… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #012/2015)

0 684
Arumdalu Resort, an Embrace Nature
Teks : Widya Prawira l Foto: Koleksi Arumdalu Resort

Pariwisata Belitung dikenal lewat keindahan pantai yang memikat dengan pasir putih dan bebatuan granitnya, seperti Pantai Parai Tenggiri, dan Pantai Tanjung Pesona yang populer di kalangan penikmat perjalanan. Pesona Belitung pun makin naik daun usai Pantai Tanjung Tinggi dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi. Jika melancong ke Belitung, cobalah ke Arumdalu Resort yang terletak di Membalong Belitung Island, berjarak 50 km dari Bandara Tanjung Pandan. Sebuah master piece resort seluas 45 ha hadir sebagai satu – satunya high class resort di Belitung yang menerapkan pendekatan ramah lingkungan.
Kawasan Arumdalu mulai dikembangkan di tahun 2011 oleh Tjioe Agus Supramono, pendiri pabrik karet ternama, PT. Prammindo Rubber Industry. Pengembangan kawasan ini menerapkan langkah-langkah inovasi yang ditunjukkan lewat prefabrikasi dan pengolahan energi dengan pendekatan ramah lingkungan.
Suasana teduh dan dekat dengan alam yang dibangun di Arumdalu Resort ini dilakukan melalui pendekatan arsitektur yang dipercayakan kepada Realrich Sjarief dan RAW Architecture selaku arsiteknya. Villa-villa yang dilengkapi dengan cabana, restoran, wedding caple dan lansekap menawan yang sinergis dengan hutan dan pantai menjadi latarbelakang resort dan menjadi nilai jual kawasan ini… (Lihat selengkapnya di Majalah Home Diary #012/2015)