Pertumbuhan Penjualan Properti di Tengah Turunnya Daya Beli

Pertumbuhan Penjualan Properti di Tengah Turunnya Daya Beli

0 121
TekslFoto: Umi Key

Jakarta, 24 Agustus 2017 – Inflasi pada Juni 2017 hanya menyentuh angka 0,69 persen secara bulanan (month to month/mtm). Momen Ramadan dan Idul Fitri yang biasanya membuat tingkat konsumsi masyarakat melonjak, ternyata tak banyak member pengaruh. Inflasi “terkontrol” hingga mencapai titik terendah selama tiga tahun terakhir. Bersamaan dengan itu, beredar pula kabar banyaknya kios ritel yang tutup lantaran performa penjualan mereka turun drastis. Tak heran jika kemudian berhembuslah isu bahwa ekonomi Indonesia melemah yang ditandai menurunnya daya beli masyarakat. Di tengah santernya kabar daya beli masyarakat yang turun, situs properti no. 1 di Indonesia, Rumah123.com justru mencatatkan adanya peningkatan transaksi properti. Padahal, meski masuk dalam kategori kebutuhan primer, harga properti yang tergolong tinggi dipastikan akan terkena dampak paling besar terkait penurunan daya beli tersebut. Lantas, benarkah daya beli masyarakat Indonesia turun?. Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung menilai adanya ketidak selarasan kabar tersebut jika disandingkan dengan data yang dimiliki Rumah123.com. Berdasarkan data yang diolah tim Business Intelligence Rumah123, tercatat adanya peningkatan performa di sector properti. “Hasilnya, secara makro, di situs Rumah123.com, jumlah search, new listing, dan sold masih tumbuh,” kata Untung dalam acara Overview Property Report Semester I/2017 di Jakarta, Kamis (24/8). Data peningkatan ini tercatat mulai dari pencarian, pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), hingga penjualan.Tren pencarian pada Semester I-2017 ini tercatat naik sebesar 64,95 persen dibanding Semester II-2016 lalu. Sementara pertumbuhan Year-on-Year, juga masih cukup menggembirakan. Rumah123 mencatatkan pertumbuhan YoY mencapai 48,30 persen. Data situs yang juga merupakan anak usaha REA Group Australia ini memperlihatkan pencarian di Bintaro, Kelapa Gading, dan BSD menjadikan tiga area ini sebagai kawasan favorit. Sementara untuk kawasan non-Jabodetabek, Antapani Bandung, Citraland Surabaya, dan Dago masih unggul. Tak hanya pencarian, pengajuan KPR juga terlihat meningkat dengan tren yang juga menarik. Pengaju KPR didominasi usia 30-39 tahun. Sekitar 46,86 persen pengaju KPR berada di rentang usia tersebut, dengan 16,47 persen di antaranya adalah mereka yang berpenghasilan Rp5-9 juta per bulannya. Dengan rata-rata penghasilan tersebut, plafon kredit yang paling banyak disasar maksimal sebesar Rp 250 juta. Posisi berikutnya masih ditempati nasabah di rentang usia yang sama, namun memiliki penghasilan antara Rp10-19 juta. Untuk golongan ini, plafon kredit yang menjadi incaran adalah Rp 250-500 juta. Menariknya,ada tren mereka yang berpenghasilan besar melakukan investasi di property kelas menengah. Setidaknya 5,72 persen konsumen yang berpenghasil di atas Rp 50 juta per bulan, juga mengajukan kredit dengan plafon hanya maksimal Rp 250 juta. “Ada anomali di salary group Rp 50 juta keatas,” ujar Untung menambahkan. Selain pengajuan KPR, identifikasi adanya peningkatan transaksi properti juga terlihat dari old listing. Rata-rata pertumbuhan sold listing per bulan, untuk property sewa dan jual, sejak H-II/2016 hingga H-I/2017 sebesar 7,4 persen. Khusus untuk property jual, rata-rata pertumbuhan per bulan di periode yang sama adalah sekitar 6,6 persen. Dari pertumbuhan di atas, rumah tapak masih menjadi pilihan utama, Setidaknya 82,01 persen dari sold listing adalah rumah tapak. Apartemen menempati posisi kedua dengan persentase sebesar 7,4. Sisanya ditempati ruko, tanah, dan komersil lainnya. Sold listing di Tangerang mencapai 82,82 persen, dan di Jakarta Selatan adalah sebanyak 18,18 persen. Demand ini ternyata masih mampu diimbangi supply, yakni ada 77,49 persen listing di area Tangerang, dan 22,51 persen di kawasan Jakarta Selatan.